Pengalaman Sekolah Pasar Modal Bursa Efek Indonesia (Bagian 4)

Tulisan Pengalaman Sekolah Pasar Modal ini adalah lanjutan tulisan berseri tentang Pasar Modal yang penulis ikuti tahun 2013 silam. Pada bagian akhir tulisan ini, kita akan sama-sama belajar melakukan transaksi langsung menggunakan aplikasi DT NextG dari Bahana Securities (tempat penulis menjadi nasabah).

Sekolah Pasar Modal

Sekolah Pasar Modal

 

Mekanisme Transaksi di Bursa Efek Indonesia

Di Bursa Efek Indonesia, perdagangan saham seluruhnya diproses oleh komputer, sehingga tak ada lagi “lembaran” dan saham kini tak lagi disebut sekian “lembar”, karena memang tak ada lagi kertas saham. Terdapat beberapa macam pasar di bursa efek. Pasar saham dibagi menjadi pasar saham reguler, negosiasi, dan pasar tunai.

Pasar Reguler (kode RG)

Perdagangan dan proses tawar menawar di pasar reguler dilakukan secara lelang yang berkesinambungan (continuous auction). Penyelesaian transaksi dilakukan pada hari ketiga setelah transaksi dilakukan. Misalnya transaksi terjadi hari Senin, maka uang baru akan berpindah tangan di hari Kamis. Jika transaksi terjadi di hari Rabu, maka serah terima baru akan terjadi di hari Senin (karna Sabtu dan Minggu bursa libur). Semua transaksi dilakukan secara remote menggunakan JATS – NextG, dengan jumlah saham yang diperjualbelikan harus dalam satuan round lot = 500 saham (namun sejak 6 Januari 2014,  1 lot = 100 saham. Ini memungkinkan investor membeli ketengan).

Pasar Negosiasi (Crossing)

Pasar negosiasi berisi transaksi yang tidak umum, misalnya transaksi jual beli saham perusahaan yang sifatnya individual, dan semuanya relatif bersifat tawar menawar antara kedua belah pihak. Hingga saat ini, transaksi saham terbesar (dengan ukuran nominal) terjadi ketika Phillip Morris membeli saham Sampoerna, yang nilainya mencapai 20 trilyun rupiah. Pada pasar negosiasi, berapa pun nilai jual sahamnya, tidak akan mempengaruhi harga saham di pasar reguler.

Pasar Tunai (kode TN)

Mekanisme transaksi di pasar tunai sama dengan di pasar reguler, hanya saja penyelesaian/serah terima dilakukan di hari yang sama dan dilakukan hanya pada sesi pertama (lebih lanjut tentang sesi, akan dibahas pada bagian “Jam Perdagangan di Bursa Efek Indonesia).

Pada tulisan ini, kita akan melulu berkutat di Pasar Reguler saja.

Jam Perdagangan di Bursa Efek Indonesia

Proses jual beli atau transaksi saham harus berada pada hari kerja (Senin – Jumat) dengan jam perdagangan sebagai berikut (sekali lagi kita hanya berbicara di ruang lingkup Pasar Reguler) :

Sesi Pra-Pembukaan = 08:45 – 08:55
Sesi 1 = 09:00 – 12:00 (11:30 jika hari Jumat)
Sesi 2 = 13:30 (14:00 jika hari Jumat) – 15:49:59
Sesi Pra-Penutupan = 15:50 – 16:00
Sesi Pasca Penutupan = 16:05 – 16:15

Harga saham harian akan ditentukan oleh harga pada sesi pasca penutupan. Pada sesi pra-pembukaan dan pasca penutupan, layar di lantai bursa akan “blank” alias gelap. Tidak ada yang tahu transaksi apa yang sedang terjadi, apalagi di harga berapa saham diperdagangkan. Ini mengurangi kemungkinan sebuah harga saham “digoreng” oleh “bandar”. Lebih lanjut tentang goreng-menggoreng saham, mungkin di tulisan berbeza.

Fraksi Harga Saham

Dalam proses tawar menawar harga saham, karena bersifat lelang, maka fraksi harga bervariasi mengikuti harga sahamnya. Contoh, bila saham memiliki harga Rp 3000 per share, maka proses lelang/tawar menawar harga hanya boleh terjadi di kelipatan Rp 25, yaitu 3025, 3050, 3075, dst.

Detail fraksi harga saham menurut harganya.

Harga Fraksi Harga
Rp 50 – Rp 200 Rp 1
Rp 200 – Rp 500 Rp 5
Rp 500 – Rp 2000 Rp 10
Rp 2000 – Rp 5000 Rp 25
Rp 5000 ke atas Rp 50

Kenaikan atau penurunan harga saham yang ideal adalah di bawah 10%, jika perubahannya lebih dari range 20% – 35%, maka JATS / system akan mereject order secara otomatis. Kenaikan dan penurunan harga saham yang tidak wajar (salah satunya karena sebab goreng menggoreng saham) dapat menyebabkan sebuah saham “halting” atau suspended atau dihentikan transaksinya oleh otoritas Bursa dan Bapepam.

Salah satu contoh perubahan harga saham yang tidak normal terjadi pada sahamnya “orang yang bentar lagi mau jadi calon presiden” (nggak udah disebut lagi siapa), waktu naik dari kisaran 300 perak sampai 8000 rupiah per saham hanya dalam hitungan hari. Nyang punya perusahaan langsung diinterogasi bursa.

Bagaimana Harga Saham Terbentuk?

Pembentukan harga saham bukan ditentukan oleh Bursa Efek Indonesia, Anggota Bursa atau Emiten. Namun didasari oleh permintaan dan penawaran pasar, yang diolah oleh komputer JATS, mempertemukan matched offer dan bid. Jika kita melihat iklan-iklan harga rumah, coba perhatikan, apa memang benar harganya sampai selangit itu? Jika dikatakan, “harga rumah di kawasan X sudah meningkat 10 kali lipat sejak 6 bulan lalu, menjadi 20 Milyar rupiah”, pertanyaan besarnya apa benar telah terjadi proses transaksi di harga segitu??

Tidak semua order, baik jual maupun beli, akan menyebabkan terbentuknya harga. Contoh proses pembentukan harga saham bisa dilihat dari skenario berikut.

Investor A ingin membeli saham XYZ di harga 5000 (20 lot) dan Investor B ingin menjual saham yg sama di harga 5200 (10 lot).

Lot Bid Offer Lot
 20  5000 5200  10

Pada kondisi saat ini, harga belum terbentuk karena tidak ada match / kesesuaian antara harga jual dan harga beli. Kemudian datanglah investor C, dengan harga 5100 dia jual 50 lot. Sesuai dengan price priority penjualan dan time priority, maka harga 5100 (harga paling murah yang tersedia di marker) ini adalah best offer, alias harga jual terbaik. Sehingga, harga 5100 akan muncul di kolom offer / jual paling atas.

Lot Bid Offer Lot
 20  5000 5100  50
5200  10

Pada kondisi ini pun harga belum terbentuk, karena belum ada kesesuaian harga jual dan beli. Datang lagi investor D ingin beli di harga 4900 sebanyak 40 lot. Bid 4900 ini masih lebih murah daripada bid sebelumnya di 5000, oleh karena itu order investor D masuk di bawah kolom bid 5000. Hingga saat ini, harga 5000 disebut sebagai best bid atau harga beli terbaik untuk yang mau jual, karena harganya masih paling mahal.

Lot Bid Offer Lot
 20  5000 5100  50
 40  4900 5200  10

Datang lagi investor E, yang ingin menjual sahamnya di harga 5100, sebanyak 15 lot. Karena sudah ada investor yang menjual saham di harga tersebut, maka jumlah lot saham yang memiliki harga Rp 5100 menjadi 65 lot (50 + 15 lot).

Lot Bid Offer Lot
 20  5000 5100  65
 40  4900 5200  10

Datang lagi investor F yang ingin membeli di harga Rp 5100, sebanyak 10 lot. Maka, di sini terjadi matching atau pembentukan harga karena terjadi kesesuaian antara harga beli dan jual. Lalu, lot saham siapakah yang terjual ke investor F? Saham milik investor C (50 lot) atau investor E (15 lot)? Jawabannya adalah kepada investor C karena sistem telah mengurutkan antrian jual beli berdasarkan urutan waktu order. Yang order lebih dulu akan mendapat prioritas lebih dulu.

Lot Bid Offer Lot
 20  5000 5100  55
 40  4900 5200  10

Tampak dari tabel di atas, jumlah saham yang ditawarkan di harga Rp 5100 sudah berkurang menjadi 55 lot.

Pada tulisan berikutnya, kita akan belajar melakukan order atau bertransaksi secara langsung menggunakan aplikasi DT Next G dari Bahana Securities.

About Prabowo Murti

Hi, I read a lot, so I write a lot. Circle me on Google Plus

2 thoughts on “Pengalaman Sekolah Pasar Modal Bursa Efek Indonesia (Bagian 4)

  1. gan, mau nanya, klo pas sktr jam 8.50, itu kan ada yg udah pada pasang bid dan offer. itu yg pasang siapa ya? biasanya sampe ribuan lot. kayak yg “jagain” gtu..

    terus ada saham2 yg bisa pasang bid dan offer duluan sktr jam 8.50, ada yg tidak, kira2 yg nentuin itu siapa ya :O

    sama2 belajar gan…gak tau klo yg itu :)

    1. Setahu ane kita masih bisa pasang beli dan jual sebelum market benar-benar buka. Yang tidak ditampilkan adalah detail bid dan offer yang terjadi berapa lot dan terjadi di harga berapa. Mungkin bandar kali ya? Supaya harga open nya bisa tinggi/rendah. Hehehehe.. Nggak tahu juga ane Gan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>