Bismillah

Kalau ada pertanyaan, apa sih yang membuat aplikasi kartu kredit kita diterima atau ditolak oleh bank? Jawaban sebenarnya adalah, tidak ada yang tahu pasti. Katanya harus bekerja minimal setahun, katanya lagi minimal penghasilan harus sekian juta sebulan, katanya lagi mesti ada saldo terendap sekian rupiah di tabungan. Semua serba katanya dan katanya. Bahkan pegawai bank sendiri tidak bisa memberi Anda alasan bila aplikasi kartu kredit Anda ternyata REJECTED.

Foto by EyeLens

Namun yang saya tahu, memang ada beberapa hal yang “memperkuat” kemungkinan aplikasi Anda diterima oleh Bank. Beberapa alasan tersebut adalah

0. Bukan tipikal nasabah yang bermasalah.
Tahukah Anda bahwa sebetulnya data kita di Bank Indonesia memiliki rapor tersendiri. Katakan kita sudah terlanjur mencicil apartemen, dan tercatat beberapa kali menunggak atau telat bayar. Di mata Bank Indonesia, nilai kita sudah minus. Rapor tersebut dikenal dengan sebutan BI Checking, dan laporan ini bisa diakses oleh semua bank dan lembaga keuangan non-bank yang bisa masuk dalam SID atau Sistem Informasi Debitur. Kecuali kita mau kredit panci di abang-abang tukang kredit, jelas dia tak tahu kalau kita punya tunggakan kartu kredit 200 juta.

1. Idenditas yang jelas.
Identitas yang jelas meliputi KTP, alamat jelas (rumah menetap), bekerja di mana (nama perusahaan, kontak atasan, posisi/jabatan, dll), termasuk keluarga yang tidak tinggal serumah. Jika rumah masih berstatus kontrak, usahakan ada nomer telepon fixed line yang sewaktu-waktu bisa dihubungi (akan penulis bahas kemudian). Ini adalah bagian dari guideline Bank Indonesia tentang “Know Your Customer” dan “Anti Money Laundering”. Bukan apa-apa, banyak juga orang kaya hasil dari rejeki haram yang “mencuci” uangnya dengan cara-cara yang tidak benar, misalnya membeli emas, kredit rumah menggunakan nama pembantunya, dll (dibahas pada kesempatan lain).

2. Kelengkapan dokumen.
Selain KTP, dokumen yang biasanya diminta oleh sales kartu kredit adalah surat keterangan penghasilan atau slip gaji. Di dalam formulir pengajuan kepemilikan kartu kredit, terdapat pula informasi yang kita harus isi dengan lengkap seperti NPWP, nomer telepon rumah/kantor/keluarga tak serumah, alamat rumah dan kantor lengkap (harus sesuai dengan KTP), nomer rekening bank (bila mendaftar di bank tempat menabung), dan informasi kartu kredit yang sudah kita miliki (bila sudah punya). Jangan pernah memberikan informasi fiktif, karena orang bank pintar-pintar. :D

Lebih lengkapnya, saya ceritakan saja pengalaman membuat kartu kredit dari beberapa bank yang saya coba sejak tahun lalu.

0. Pengalaman membuat kartu kredit BCA.
Pertama kali saya membuat kartu kredit BCA, saya tak punya rekening di BCA. Karena saya tak punya KTP Jakarta, akhirnya saya pun tidak berhasil membuat rekening di BCA. Jadi kesulitannya ganda. Saat saya tanya mengapa proses membuat rekening sedemikian sulit. “Soalnya jaman sekarang banyak penipu, Pak!” jawab teller bank BCA, tepat di depan muka saya. :D Namun dengan sedikit trik, akhirnya saya berhasil juga membuat rekening, dan langsung apply CC BCA sekalian. Dua hari kemudian, SMS dari BCA datang. “Terima kasih bla bla bla.. Namun mohon maaf, bla bla bla.. REJECTED“. :-P

1. Pengalaman membuat kartu kredit BNI (1st attempt).
Saya langsung datang ke salah satu kantor cabang BNI. Dengan berstatus nasabah Taplus BISNIS yang saldo rata-rata di atas 10 juta perak, saya cukup pede aplikasi saya bakal di-approve. Nyatanya, melihat dandanan saya yang nyaris seperti gembel, Ibu kepala cabang memandang saya dengan tatapan hina, dan mengusir saya dengan “halus”. Pekerjaan saya saat itu memang tidak sementereng karyawan swasta yang punya “ID Card” dan bekerja di “kantoran” (walau gaji sebenarnya tak seberapa). Ya sudah, saya anggap saya gagal bahkan sebelum mengisi formulir aplikasi kartu kredit. :D

2. Pengalaman membuat kartu kredit Mandiri.
Kalau kata teman saya si Novan, “Elu apply CC kudunya jangan ngarep2 banget Bo. Makin ngarep, makin nggak dapet!” Waktu itu Bank Mandiri sedang ada promo free annual fee seumur hidup karena lagi ulang taon. Saya apply tanpa mengharap apa-apa, bersiap dengan kemungkinan direject lagi. Formulir dan dokumen saya isi seperti biasa. Selang 3 minggu kemudian, tiba-tiba tuh kartu kredit udah jadi aja. :D

3. Pengalaman membuat kartu kredit BNI (2nd attempt).
Ketika itu saya sedang mau ambil uang tunai di BNI Epicentrum Walk. Salah seorang sales CC menawari saya. Namanya Mas Rahmat. “Ogah, paling entar direject lagi Mas,” saya jual mahal. “Wah, jangan gitu Pak. Hehe, Bapak kan pakai gold (maksudnya taplus bisnis –pen), pasti di-approve.” Ah, ini dia! Akhirnya dia yang isikan formulir, fotokopi KTP, dan saya janji bakal kirim slip gaji via email keesokan harinya. Done. Tak sampai 2 minggu kemudian, saya ditelpon orang BNI kalau kartu saya sudah jadi. “Semudah itu, Mbak?” tanya saya nggak percaya. Bener apa kata si Novan. Hehe.

Kalau berpatokan pada “katanya” orang-orang, ini beberapa tips apply credit card.

  • Informasi yang jelas (KTP, alamat lengkap kantor, rumah, dll).
  • Jangan sampai tak ada yang mengangkat telpon saat pihak bank memverifikasi nomer fixed line Anda!
  • Sesuaikan penghasilan Anda dengan tipe kartu kredit. Kalau gaji pas-pasan sebaiknya apply silver (limit atau pagunya rendah) saja.
  • Salary ditransfer via transfer bank, jadi Anda tak perlu melakukan mark up pada surat penghasilan atau slip gaji.
  • Lama bekerja di tempat yang sekarang sebaiknya lebih dari setahun.
  • Jika Anda frustrasi dan tak kunjung di-approve, cobalah cara beberapa orang (termasuk freelancer yang tak berstatus karyawan, atau penghasilan tak tetap) yang membuat kartu kredit dengan jaminan. Dengan jaminan maksudnya, Anda diwajibkan mengendapkan dana yang sesuai dengan limit kartu kredit, katakan Rp 4 juta. Maka dana tersebut tak boleh diambil selama kartu kredit Anda aktif (namanya juga jaminan). Cara ini dulu bisa digunakan di BCA, tapi sekarang di Mandiri sepertinya juga bisa.

Selamat membuat kartu kredit, semoga berhasil. Jangan lupa, kalau sudah jadi, jangan maen asal gesek aja!!