Model Bisnis Advertising

Dalam salah satu adegan di film The Social Network, digambarkan bahwa model bisnis dengan menggaet pemasang iklan (advertising) adalah model bisnis yang tak sepenuhnya disetujui oleh Mark Zuckerberg. Ketika Mark membawa ide tentang TheFacebook.com (domain awal Facebook ketika itu) pada Sean Parker, pendiri Napster (yang pada akhirnya ditutup karena tersandung masalah legalitas), Sean juga sependapat. Namun, Eduardo Saverin, CFO Facebook pada saat itu, tetap berusaha untuk menggaet pengiklan.

empty billboard

Ada apa dengan model bisnis advertising?

Menurut saya, model bisnis seperti ini berpotensi merusak “kenikmatan” user dalam menikmati konten. Pop ups are not cool. Sidebar ads are not cool. Bahkan ketika user Facebook sudah puluhan ribu pun, Mark tetap bersikeras untuk tidak memasang iklan. Bahkan pihak yang mengaku menyediakan “contextual ads” sekelas Google pun masih sering salah mengartikan konten dengan iklan yang muncul. Misal, ketika saya menulis tentang asuransi secara negatif, maka yang muncul adalah iklan asuransi. Ketika saya menulis tentang saham dan stock market, mengapa yang muncul iklan trading (padahal saya anti terhadap analisa teknikal)?

Google gagal mengartikan maksud dari konten. Dengan demikian, ia gagal menghadirkan iklan yang relevan dengan apa yang menjadi keinginan saya, ditambah lagi kepuasan user menjadi berkurang karena page load website yang lebih lama atau produk yang ditawarkan memang tidak mereka butuhkan.

Saya jadi ingat salah satu quote juragan pabrik tempat saya bekerja

Kalau kita pasang iklan, saya loncat dari lantai 7!

Mengapa harus menggunakan model bisnis advertising?

Model bisnis advertising adalah model bisnis paling mudah, jika kita hanya berbicara tentang media online. Dan memang benar, model bisnis ini adalah model bisnis sejuta umat yang dipakai hampir oleh setiap situs berita atau situs-situs dengan traffic yang tinggi. Bagaimana dengan website ini? Terus terang saya tidak (atau lebih tepatnya belum) berniat untuk meraih pendapatan utama dari sini. Dari Google, saya hanya mendapat sedikit lebih besar dari biaya yang saya keluarkan untuk pembuatan website ini. Domain, hosting, dan sedikit waktu. Tidak lebih. Saya ingin fokus pada barang jualan saya yang lain. Lapak saya bukan di sini.

Alternatif model bisnis advertising

Sebetulnya ada banyak sekali alternatifnya. Misalnya saja premium content atau e-book yang berisi insight. Tapi apa iya orang-orang yang setiap hari baca Detik, akan rela membayar $ 0.99 sebulan untuk membaca berita? Kayak nggak ada situs berita lain aja. Orang akan cenderung menikmati sesuatu yang gratis, walaupun mereka sebenarnya harus mengotori penglihatan dengan tumpukan iklan, pedagang obat kuat, animasi flash, dan semacamnya.

Atau mereka bisa menginstall Adblok.

Dalam dunia marketplace di mobile apps, kita disuguhi In-App Purchase. Ini adalah model bisnis lain yang mengusung tema razor and blade business model. Beri pisau cukurnya dengan gratis, namun kalau mau ganti silet ya mesti beli dari kami. “Aplikasi kami gratis, tapi kalau mau bebas iklan bayar aja $ 0.99 nanti kami nggak kirim iklan Clash of Clans lagi. Oh ya, kalau mau bisa loh naikin level pake item, tapi beli lagi ya”.

Atau mau pake model bisnis “jual data personal user”?

About Prabowo Murti

Hi, I read a lot, so I write a lot. Circle me on Google Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>