Motivasi

Kisah Sukses: Bisnis Ayam Potong di Jakarta

Bisnis ayam potong saat ini cukup menjanjikan. Terbukti dengan salah satu kisah inspiratif untuk Anda, langsung dari pemilik bisnis ayamkarkas.com, Mas Angga Andhikka, yang saya rangkum dalam tulisan sederhana ini. Mas Angga ini dulunya adalah teman kerja saya, namun memutuskan untuk full berbisnis ayam potong dengan sasaran pasar di Jakarta dan sekitarnya.

bisnis ayam potong

Ternak Ayam Potong

Bisa diceritakan sedikit tentang diri Mas Angga, misal tentang pendidikan, atau keluarga?

Saya merupakan keturunan Jawa dan Sunda yang lahir di Banten, Tangerang tepatnya, saya adalah anak pertama dari dua bersaudara, dan saya sudah berkeluarga serta dikaruniai dua orang putri. Saya merupakan lulusan sarjana hukum dari Universitas Parahyangan (UNPAR) Bandung, tapi dari awal saya berkarir tahun 2002 hingga pekerjaan saya yang terakhir sebelum memulai usaha, selalu di bidang marketing dan IT, dan belum pernah bekerja di bidang hukum, diawali dari bekerja sebagai PR di sebuah event organizer di Bandung hingga menjadi Online Marketing Manager di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Jadi arti pendidikan bagi saya berdasarkan pengalaman adalah 30% wawasan, 70% pembentukan pola pikir, sudut pandang dan membantu membangun karakter, tentunya hal ini berbeda bagi setiap orang khususnya mereka yang memiliki profesi, seperti contohnya dokter, programmer dll.

Mas Angga kan sudah bekerja setelah sekian lama, apa yang akhirnya membuat Mas Angga memutuskan untuk memulai bisnis sendiri?

Sederhana saja, saya merasa selama ini sudah sedikitnya membantu orang lain untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita mereka (pemilik perusahaan / bos) sekarang saatnya saya mewujudkan mimpi dan cita-cita saya. Memang tidak mudah untuk memulai usaha, tapi kalau tidak dimulai, selalu khawatir dan berangan-angan semua yang dicita-citakan hanya akan menjadi buah tidur saja. Jadi memulai usaha merupakan perjalanan hidup yang harus saya lalui karena menurut saya mimpinya sudah sempurna, sekarang saatnya membuat mimpi tersebut menjadi kenyataan.Selain itu, saya ingin memberikan bekal untuk semua keturunan saya nantinya, dengan mewariskan bisnis yang telah saya bersama istri rintis dan bangun ini, sehingga pada jamannya mereka nanti hanya tinggal memetik “buah”-nya tanpa harus bekerja keras seperti yang saya jalani sekarang ini.

Dari siapa Mas memperoleh dukungan? Apa tanggapan keluarga saat Mas Angga memutuskan untuk full time menjadi pengusaha?

Ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi shukhtil walidain (Ridho Allah terletak pada ridho kedua orangtua kemurkaan Allah terletak pada kemarahan kedua orangtua). Sebelum memutuskan untuk full time menjadi pengusaha, tentunya ridho dan restu orang tua yang saya mohon, karena insyaallah dengan doa orang tua lah segala sesuatunya menjadi lancar. Sedangkan anggota keluarga lainnya mendukung penuh usaha saya dan istri saya ini di bawah bendera UD Griyam Makmur Lestari, yang terpenting insya Allah halal dan berkah.

Bisa diceritakan awal lahirnya UD Griyam Makmur Lestari?

UD. Griyam Makmur Lestari merupakan nama dari badan usaha untuk usaha ayam karkas / ayam potong yang saya dan istri jalani, nama tersebut diberikan oleh Ayah Mertua saya yang memiliki arti GRIya aYAM yang MAKMUR dan bertahan selamanya (LESTARI)

Kendala apa yang Mas Angga hadapi di awal memulai bisnis ini? Apakah bisnis ayam potong membutuhkan modal yang besar?

Ya semua bisnis memerlukan modal! Tapi modal uang bukan yang utama, sekarang banyak cara untuk mendapatkan modal uang, seperti pinjaman dari keluarga, teman, koperasi atau Bank, bisa berupa KTA, kredit usaha mikro hingga kartu kredit pun bisa dijadikan modal uang, atau bisa juga dengan cara mencari investor. Selama kita yakin dengan usaha yang akan kita jalankan, modal uang bukan suatu masalah. Modal utama dan yang paling besar untuk memulai usaha adalah BERANI KELUAR DARI ZONA NYAMAN dan BUANG GENGSI, siapa bilang usaha itu lebih enak dari bekerja kantoran, lebih nyaman dari bekerja kantoran. Bayangkan saja seluruh hidup kita ada di tangan kita sendiri, mulai dari menentukan mau usaha apa, modal uang sebesar apa, bagaimana menjualnya, berapa banyak waktu yang harus disediakan dan seterusnya. Silahkan bayangkan dan renungkan, kendala terbesar seseorang untuk memulai usaha bukan modal uang, tapi keberanian untuk masuk ke “hutan belantara” dimana jalan dan tujuannya kita tentukan sendiri, bagaimana mencari dana, bagaimana memasarkan produk, bagaimana mengatur cash flow.

Modal uang tidak terlalu besar, dengan modal ±Rp. 250.000 kita sudah bisa mulai usaha ayam potong. Contoh:Tukang sayur, membeli ayam dari supplier ayam potong ±Rp. 25.000 per-kg dengan ukuran per ekor 1kg, kemudian dijual kembali menjadi ±Rp. 30.000 hingga ± Rp. 35.000.Misal sehari bisa jual 10kg x Rp. 5.000 (margin) = Rp. 50.000 (keuntungan bersih per hari), dalam 1 bulan atau ± 25 hari keuntungan yang bisa di dapat sebesar Rp. 1.250.000, itu hanya dari 1 perumahan dan hanya dari ayam saja, bagaimana dengan keuntungan dari sayuran, ikan, daging, tahu tempe yang dia jual?

Belum lagi ilustrasi dari usaha ayam bakar yang saya dapat dari pelanggan saya, dimulai dari gerobak kaki lima modal Rp. 1.000.000, hingga dalam 1 tahun sudah berkembang dan memiliki 10 cabang di ruko dan mall. Mungkin di lain kesempatan saya bagi cerita ini.

Apakah issue flu burung sempat mengganggu omset bisnis ayam potong? Bagaimana kiat Mas Angga untuk menghadapi issue ini?

Produk ayam karkas kami dilengkapi sertifikasi lengkap seperti sertifikat halal, KESMAVET untuk hasil uji laboratorium dan sertifikasi lainnya, produk kami rutin di uji oleh dinas peternakan, untuk menjamin terbebas dari flu burung, formalin dan zat berbahaya lainnya. Jadi insya Allah aman untuk dikonsumsi.

Apa suka duka Mas Angga sejak pertama kali berbisnis ayam potong? Sempat nggak, misalnya, dimaki-maki sama pembeli? Hahahaha.

“If you love your job you never have to work a day” Alhamdulillah kalau sampai dimaki-maki belum pernah, tapi ditipu, diusir, diketusin, dikasih muka kusut, difitnah sudah pernah, tapi itu bukan hal yang mengecilkan hati, semua itu saya nikmati dan menjadi bagian dari usaha yang harus saya lalui, karena suatu saat semua yang pernah saya alami akan menjadi sebuah rangkaian cerita yang indah untuk saya ceritakan kepada anak dan cucu saya nantinya. Jadi kesimpulannya ya saya anggap suka semua tanpa duka hahahaha, keep positive! Tidak ada gunanya merajuk.

Apa yang membuat usaha Mas Angga berbeda dengan pesaing Mas Angga? Tips-tipsnya dong dalam menjaga pelanggan dan menjaga kualitas…

Kenali SWOT produk kita, utamakan silaturahmi, senantiasa bersyukur, sabar kemudian layani pelanggan dengan sepenuh hati dan ikhlas.

Terakhir nih Mas.. Apa pesan Mas Angga untuk para pembaca blog ini, misalnya ada yang ingin mengikuti kisah sukses Mas dalam berbisnis ayam potong dan karkas ayam?

Carilah mitra bisnis yang tepat, jangan semata mengejar keuntungan, utamakan lebih kepada menjaga silaturahmi, nanti rejeki akan mengikuti dengan sendirinya.Tidak pernah berhenti berdoa, bersyukur, sabar dan ikhlas. Karena tidak semua orang bisa jadi pengusaha. Salah satu unsur paling penting dari pengusaha adalah selalu bersyukur dengan semua yang ada, sabar dan yang paling penting adalah keikhlasan. Ikhlas bahwa hari ini bisa untung besok bisa rugi. Ikhlas tidak ada jaminan kestabilan ekonomi per akhir bulan: sudah fix mendapatkan penghasilan berapa sehingga tahu harus belanja berapa, kurang istirahat, serta Ikhlas tidak memiliki jam kerja atau dengan kata lain jam kerja lebih banyak daripada jadi pegawai dan tidak ada libur.

 

Pengusaha Harus Punya “Biji”

Dalam bahasa Inggris ada istilah “balls” yang arti sebenarnya memang skrotum alias “biji”. Biji di sini tentu hanya dimiliki lelaki, sehingga kalau kita dikatain “You’ve got no balls” artinya kita tidak gentle, nggak punya nyali. Ciut. Sebagai seorang pengusaha, penting punya nyali, daripada punya skill bisnis yang mumpuni. Karena menurut saya..

Pengambilan keputusan yang cepat, jauh lebih penting daripada mengambil keputusan yang bener tapi kelamaan.

bravest cyclist

Berani!

Baca selanjutnya…

Tips Membangun Relasi Bisnis

Di jaman sekarang ini, kalau nggak punya koneksi atau membangun relasi bisnis, kata orang mau usaha apa saja jadi susah. Jangankan hanya sekadar bisnis sampingan, yang menjadikan usaha atau bisnis sebagai lahan utama pekerjaan saja masih sering kebingungan. Tentu ini bisa disiasati dengan rajin-rajin mendapatkan kenalan, baik itu dari keluarga, teman, tetangga kanan-kiri (tidak pakai “oke”), atau bahkan dari komunitas di mana kita sering ngumpul. Yup, relasi bisnis dimulai dari mengakrabkan diri ke lebih banyak orang.

membangun relasi

Membangun Relasi

Berikut tips saya dalam menjalin kenalan atau rekanan bisnis dengan siapa saja, bahkan termasuk petinggi-petinggi di pemerintahan.

Baca Selanjutnya

Strategy for Business : Simple Approach

When people start thinking about running a great company, most of time they just overthink. They start comparing their plan with the existing ones such as Microsoft, Google, Oracle, or others. The more they think about the giants, the more difficult they take a little baby step. They think they need more money to build their business. They think that the tension of competition is high. They think they will not have enough luck in the long run. They think they will end up as a loser, just like the others.

Don’t overthink. Don’t make it perfect.

The problem of thinking too much is that you will make your vision more vague. Your business is not started yet, but you already made some delusive possibilities. You block your own way to the freedom, to be successful. When people see you start a very new and rare kind of business, they will say “Gosh, I guarantee you will fail. Nobody wants to buy a bloody pink hat in graduation ceremony”. But if you try to mimic the Coca Cola, of Kentucky Fried Chicken, you will hear another sound saying “You’re not going to make it. People are loyal to some popular brands”. The solution of this case is simple : be dull of hearing. Do what you need to do.

Start it. And start it now.

My coworker has a story. His brother told him that he wanted to start a very successful business, as brilliant as an idea of selling the roasted peanuts (in Indonesia, there is an idiom for a product that gets a very high demand = “laris manis seperti kacang goreng” = in high demand just like roasted peanuts). “So, what do you sell?” my co-worker asked. “Damn sure, roasted peanuts!!” Don’t think such a complicated solution. There should be a quick fix to get the problem solved.

Another clownish story, still by the same person. He made an online store with “acrylic” as the part key of the domain name. Unfortunately, we stumbled on another domain contains “akrilik” (note the letter “i”), the more familiar word in Indonesia. We, as people who sit more than 10-hours sucking screen and write software codes, then “whois” that domain so we can grasp the owner’s name. From the whois information, we were riffing through another dull outmoded archaic online shops he owned. We came to a conclusion that the person is not so tech savvy. But heck, the online shops are running. He sells! Look, we spent most of our entire lives learning HTML/CSS/JavaScript/PHP, you named it.. Yet we still have one and only online shop powered by the most convincing e-commerce framework, but with big header says “UNDER CONSTRUCTION”?

The moral of the story is that you should start with the “Simple Approach“.

What is “Simple Approach” and how come this can be a powerful strategy for our business?

The “Simple Approach” just some phrase that stumbled and crossed my mind, but you probably found it easily elsewhere. The approach believes that every single problem should be solved using the very least and minimum effort. In practice, we just don’t give much sweat to a business challenge, and we should act like we know nothing. We should be dumb and oafish.We should forget that we hold some titles from BSc, MBA, PhD, whatever. We should forget what the text-book said. We should ask ourselves these kind of simple questions :

“How do I fix this broken roof, if I’m not getting a bachelor degree of engineering from Oxford University?”
“He doesn’t even go to school. How come he could own more than 100 companies?”
“I spent 4 years studying and reading billions of reference of car machines. A trashman comes with a hammer, knock some part of my hood, and fvck… It’s just fixed”

Wanna sell your cookies? Start bake it. Don’t worry if it tastes like a shit. Sell it anyway.

 

Menghargai Uang, Seberapapun Kecilnya

Ketika Everton bertanding melawan Liverpool di Liga Inggris, ada sebuah kejadian menarik yang melibatkan penyerang Liverpool, Luis Suarez. Om Suarez ini memang penuh dengan kontroversi, baik di Liga Inggris bersama Liverpool (misalnya saat ia diputuskan bersalah karena kasus rasisme terhadap Patrice Evra, pemain Manchester United), atau saat bersama tim negara asalnya, Uruguay (saat ia dengan sengaja melakukan hands ball di kotak pinalti untuk mencegah Uruguay kemasukan gol saat berhadapan dengan Ghana dalam Piala Dunia).

luis suarez memungut koin

Luis Suarez memungut koin yang dilempar fans Everton (gambar dari Getty Images)

Saat salah seorang fans Everton berusaha mencederai pemain Liverpool dengan cara melempar koin, Suarez memungut koin tersebut, menunjukkannya sebentar pada wasit, dan menyimpannya di dalam sepatunya. Banyak sekali cerita mengenai kejadian itu, namun yang saya suka hadir seperti yang muncul di account Twitter Footy_jokes (dan beberapa blog yang membahas Liga Inggris lainnya).

When Everton fans threw coin at Suarez, he took them and kept that safe in his shoe, because he was once an 11-year-old kid on the streets of Montevideo playing football barefoot not knowing if there’d be food when he returned home. He know the value of money even if it’s just a penny. You’d know better than to throw coins at him

Terlepas dari “hoax” tidaknya cerita tersebut, saya yakin kita sama-sama bisa mengambil hikmah. Hikmah bahwa seharusnya kita bisa belajar untuk lebih menghargai uang, seberapapun kecilnya. Dan karena rata-rata negara di Amerika Latin memang tidak terlalu kaya, boleh jadi Suarez pun sempat mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Masa-masa bingung antara bisa makan atau tidak besok hari, di saat kebanyakan orang di luar sana menyombongkan apa yang mereka makan via Instagram.

Pengusaha-pengusaha yang baik, yang kekayaannya bukan datang begitu saja dari langit, atau warisan orang tuanya, tahu benar cara menghargai uang. Salah seorang pengusaha (yang kabarnya bakal maju menjadi Presiden di 2014. Oya, tentu blog ini tidak berafiliasi dengan Partai Politik atau brand mana pun :D), bahkan berkisah saat ia berusaha meminjam uang Rp 16juta dari Ayahnya, ia diberi uang dalam bentuk uang kertas (tunai) di dalam karung, hingga sulit dibawa-bawa. Saat ditanya, “Mengapa caranya mesti seperti ini?” Ayahnya menjawab, “Itu agar kamu tahu sebanyak apa uang Rp 16juta itu, agar kamu berhati-hati menggunakannya.”

Jadilah seperti Paman Gober, yang kalau lihat uang walau recehan, pasti dipungut. Buktinya gudang uangnya semakin lama semakin penuh dengan uang, bahkan ia mandi pagi dengan berenang di tumpukan uang. Hehehehe. Jika kita ingin belajar menjadi pengusaha besar, ada baiknya kita juga belajar menghargai uang dengan cara memanfaatkan dengan benar setiap rupiah yang kita dapatkan dari berbisnis. Ada kalanya memang usaha sedang ramai, tapi boleh jadi lebih sering masa-masa paceklik mendera, yang mengakibatkan kita dililit hutang yang sangat besar, yang membuat kita bahkan lebih miskin dari pengemis, karena saldo pengemis nol, sedang saldo kita minus. Di saat kita lagi gembel-gembelnya, uang senilai 500 perak pun sungguh-sungguh berharga.