Entrepreneurship

Menjadi PNS vs Pengusaha

Menjadi PNS bagi sebagian orang adalah sebuah kebanggaan. Bangga karena penghasilannya sudah pasti (entah sudah pasti segitu-segitu saja sampai nungging atau sudah pasti lainnya). Bangga karena kalau berangkat ke kantor bisa pake seragam. Bangga karena setelah pensiun pun masih dapat pesangon ala kadarnya. Dan bangga karena menjadi abdi negara, abdi masyarakat. Tapi banyak juga orang yang enggan menjadi PNS, salah satunya Romi Satria Wahono, founder ilmukomputer dot com. Disclaimer : tulisan ini murni subjektif.

PNS tidur

Sumber gambar dari inilahkoran.com

Mengapa sebaiknya tidak menjadi PNS?

Calo bin Makelar alias Biong atawa Perantara a.k.a Orang Dalam

Suatu sore di tahun 2009, Ibu saya pernah ditelpon seseorang yang mengaku “keluarga jauh”. Setelah berbasa-basi sedikit, seperti menanyakan kabar, lagi sibuk apa, sudah pensiun apa belum, dst, orang tersebut menawarkan jasa untuk meloloskan saya dalam sebuah tes CPNS di daerah tempat saya tinggal. Kala itu memang sedang rame-ramenya penerimaan aparatur negara. Sekadar iseng, Ibu saya tanya, “Emang berapa biayanya?” Suara di seberang sana menjawab, “Murah Bulek, cuma tujuh puluh juta.”

Sontak Ibu terkekeh. Setelah itu Ibu bercerita. “Duit segitu kita bisa buat naek haji. Buat dua orang, Bu!” jawab saya. Ternyata hal-hal sedemikian hanyalah sekadar modus penipuan. Banyak sekali janji-janji manis orang yang mengaku punya link ke panitia penerimaan pegawai, dengan harapan si korban akan benar-benar lulus, dengan atau tanpa bantuan si broker. Bukankah ini bisnis modal dengkul bin cingcong yang cukup mehong dan penuh kibulisasi? Dari awalnya saja sudah kotor, apalagi ketika masuk bekerja?

Tapi kan kalau nggak lolos, duitnya bisa dibalikin?” Sampeyan belum tahu sih berapa banyak cerita si Calo tukang kibul kabur tak berbekas atau bersilat lidah. Nah loh, memble aje lu pade, kata orang Betawi.

Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme

Sungguh sangat besar kebolehjadian orang-orang pemerintahan itu untuk melakukan praktek KKN. Logika saja. Berapa sih gaji PNS? Kalau mereka tidak mencari tambahan di sana-sini, apakah mungkin bisa hidup berlebih? Mulai dari korupsi waktu (datang jam 10 pagi, ashar sudah di rumah), korupsi anggaran (beli komputer sebiji minta disiapin duit 10 juta perak, padahal keperluan cuma buat mengetik dan main solitaire), kolusi proyek (yang menang tender yang paling sering ngasih amplop dan gratifikasi semacam parsel lebaran), hingga nepotisme (yang keluarga sendiri bisa nyerobot antrian).

Saya yakin masih banyak orang-orang di pemerintahan yang berhati bersih, punya nurani. Namun bila sistemnya masih begitu-begitu saja, saya pikir akan butuh waktu lama untuk menjadi lebih baik. Mentalitas lebih sulit diubah daripada kebijakan.

Jarang ada PNS yang tajir

Tajir dalam artian benar-benar kaya sekaya-kayanya. Kalau hanya sekadar punya mobil dan rumah tingkat dua sih bukan kaya namanya, karena yang jualan baju koko di emperan Tanah Abang pun mobilnya Alphard. Lihat daftar 40 orang terkaya di dunia, apakah ada yang profesinya jadi PNS? Nggak ada bro. Apakah salah punya cita-cita menjadi PNS dan sekaligus masuk dalam daftar orang terkaya? Nggak juga, tapi kayaknya bakal jadi cita-cita tak kesampaian. Songongnya naujubilah pake checkin di hotel mewah katanya seminar (yang judul seminarnya sampe 3 baris di spanduk), padahal yang mereka makan duit-duit pajak kita juga. Hati-hati lihat PNS model begini, biasanya makan duit haram atau minimal SK-nya sudah digadai ke Bank.

Pintar atau bodoh, gaji tak beda

Di sistem pemerintahan yang mawut, kinerja ditinjau dari parameter yang absurd. Semisal, masa kerja pangkat dan golongan. Dan yang perlu kita ketahui bersama, setelah berstatus menjadi PNS, maka akan sulit bagi negara untuk memecat orang-orang yang mangkir. Paling maksimal hanya diberi teguran atau surat peringatan. Tidak lebih. Mau punya prestasi sebesar apapun, akan sulit kalau status masih golongan 3A. Mau naik gaji? Tunggu masa jabatan dulu lah yaw.

Mesin Absensi

Nah, ini juga yang menjadi salah satu tolak ukur kinerja PNS. Bisa saja, pagi-pagi jam 8 sudah ngejeglok mesin absensi (kalau mesin absensinya masih yang model kartu), tapi setelah itu ke warung sarapan dulu. Eits, jangan lupa itu satu paket dengan minum kopi merokok dan baca koran. Jam 10 pagi saat rakyat-rakyat miskin Indonesia sudah berjubel mengantri, petugas baru datang dan mulai benar-benar bekerja. Jam 12 waktu adzan dhuhur pertanda istirahat makan siang plus tidur di musholla. Jam setengah dua balik lagi kerja dan adzan ‘ashr ibarat bel tanda pulang. Mau ngomong soal produktivitas?

Menjadi PNS akan sulit mengembangkan diri

Karena birokrasinya sejak mulai menjadi PNS hingga pensiun itu semrawutnya bukan main, sudah pasti orang-orang di dalamnya tak punya kesempatan untuk mengembangkan diri. Mau usul ide brilian? Eits, nanti dulu. Lihat posisi Anda siapa? Ada eselon 1,2,3 dan 4 di atas Anda. Kalau tak hati-hati bisa dijegal yang mengaku kawan. Mau angkat bicara nunggu punya gelar mentereng dulu.

Akhir kata…

Ada sekitar 4,7 juta orang yang bekerja menjadi PNS saat ini. Anggap saja separuhnya mengundurkan diri, lalu beralih profesi menjadi pengusaha. Ekonomi Indonesia langsung bangkit, karena jika 1% dari jumlah penduduk (sebagai syarat ekonomi negara menjadi maju) akan langsung tercapai. Adalah wajar bila orang tua akan cenderung mengarahkan anaknya untuk memiliki profesi yang sama. Jadi, anak PNS biasanya jadi PNS. Namun anak pengusaha akan cenderung jadi pengusaha. Jika sudah terlanjur menjadi anak PNS, kita harus memutus mata rantai supaya anak kita tak bercita-cita menjadi PNS.

Mbak-mbak PNS

Mbak, mikir apaan? Nungguin tanggal 25?

Mengintip Kekayaan Capres dan Cawapres 2014

Mari kita telaah satu persatu aset dan kekayaan capres dan cawapres, berdasarkan website KPK di ACCH.KPK.GO.ID. Karena yang menarik adalah keempat orang tersebut memiliki latar belakang kewirausahaan alias pengusaha. Pengumuman pemilu Presiden tinggal menunggu hitungan menit. Pilihannya hanya dua, kalau tak Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang menang, sudah barang tentu Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa yang melenggang ke istana negara. Seri hampir tak mungkin.

Kekayaan Capres dan Cawapres

kekayaan capres dan cawapres 2014

Kekayaan prabowo, hatta rajasa, jokowi, dan jusuf kalla

Kekayaan Prabowo Subianto

Prabowo lebih dikenal karena karir militernya. Yang tak banyak diketahui orang, sebetulnya Prabowo hidup di lingkungan pebisnis. Menantu (atau mantan menantu?) dari mantan Presiden Soeharto ini lahir dari seorang begawan ekonomi bernama Soemitro Djojohadikusumo, dan cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, founder dari Bank Negara Indonesia. Setelah “berhenti” dari karir kemiliterannya pada tahun 1999, Prabowo memulai kehidupan barunya di Yordania, di mana ia berkenalan dengan Pangeran Yordania, Abdullah II (yang juga kawan sekolah militernya) dan berbisnis bersama adik kandungnya, Hashim Sudjono Djojohadikoesoemo.

Pada tahun 2003, Prabowo sempat melaporkan harta kekayaannya ke KPK. Saat itu, ia masih berstatus Mantan Komando – Sekolah Staff dan Komando ABRI. Setelah itu, Prabowo sempat melaporkan harta kekayaannya pada tahun 2009 menjelang pemilu presiden. Saat itu ia digandeng Megawati sebagai calon wakil presiden. Tetapi, LHKPN Prabowo hanya ada tahun 2003 di website KPK.

Pada tahun 2003, total harta kekayaan Prabowo “hanya” berkisar Rp 10 milyar. Namun di tahun 2014 ini, total harta kekayaannya melonjak tajam menjadi 1,6 trilyun rupiah. Ia pun menjadi orang yang paling tajir, bahkan jika harta kekayaan Jokowi, Jusuf Kalla, dan Hatta Rajasa digabungkan, jumlahnya tak mencapai separuh kekayaan Prabowo.

Harta kekayaan Prabowo berasal dari tanahnya yang memiliki luas 9 hektar di Cianjur, dan mayoritas adalah surat berharga bernilai Rp 1,5 trilyun yang tersebar di 26 perusahaan.

kekayaan prabowo subianto 01

LHKPN Prabowo Subianto tahun 2003

kekayaan prabowo subianto 02 kekayaan prabowo subianto 03 kekayaan prabowo subianto 04

Sedangkan untuk LHKPN terbaru (atau bahkan untuk tahun 2009), penulis belum menemukannya baik di website KPK atau di situs manapun. Mungkin saking banyaknya, jadi ngitungnya susah kali ya?

Kekayaan Jokowi (Joko Widodo)

Joko Widodo merupakan capres yang cukup rajin melaporkan harta kekayaannya ke KPK. Tercatat ia 4 (empat) kali melaporkan kekayaannya ke KPK, yaitu pada tahun 2005, 2008, 2010, dan terakhir 2012 lalu. LHKPN tahun 2014 yang terbaru, belum dicantumkan di website KPK. Dari laporan ke laporan, kekayaan Jokowi tak meningkat tajam seperti Prabowo. Total kekayaan Joko Widodo dari laporan ke laporan berturut-turut adalah Rp 9,6 milyar, Rp 14,192 milyar, Rp 18, 47 milyar, dan pada tahun 2012 sebesar Rp 27,255 milyar.

Jokowi adalah capres dengan harta yang paling minimalis, selisih sedikit dengan harta kekayaan M Hatta Rajasa. LHKPN Jokowi tahun 2014 lalu menyebutkan, ia memiliki total harta kekayaan sebesar Rp 29,892 milyar. Harta ini didapat selain dari karirnya sebagai walikota dan gubernur, juga berasal dari perusahaan furnitur miliknya yang berkibar di bawah bendera CV Rakabu.

kekayaan joko widodo 2012

LHKPN Joko Widodo tahun 2012, jabatan : Gubernur DKI Jakarta

Kekayaan Jusuf Kalla

Jusuf Kalla memang lahir dan tumbuh di keluarga yang kental semangat bisnisnya. Di bawah panji Kalla Group, JK terbukti berhasil menjalankan usaha di berbagai bidang industri. Tercatat di website KPK, Jusuf Kalla telah 4 kali melaporkan harta kekayaannya. Termasuk ketika masih menjabat sebagai wakil presiden periode 2004 hingga 2009.

Total kekayaan Jusuf Kalla dari laporan ke laporan adalah Rp 134,26 milyar (tahun 2001), Rp 194,192 milyar (tahun 2004), Rp 253,911 milyar (tahun 2007), dan terakhir tahun 2009 sebesar Rp 314,5 milyar.

Sedangkan laporan terakhir menurut KPK, Jusuf Kalla memiliki jumlah kekayaan sebesar Rp 465, 61 milyar. LHKPN Jusuf Kalla setelah tahun 2009 juga belum penulis temukan di website KPK.

kekayaan jusuf kalla 2009

LHKPN Jusuf Kalla tahun 2009

 

Kekayaan M Hatta Rajasa

Hatta Rajasa mendirikan PT Arthindo Utama (arthindo.co.id) pada tahun 1982. Sejak tahun 2000, ia berfokus di karir politik sebagai anggota DPR untuk fraksi Amanat Nasional. Jabatan menteri selalu ia terima sejak tahun 2001 (dengan departemen yang berbeda), hingga akhir memutuskan mundur karena berpasangan dengan Prabowo di Pilpres 2014.

Tercatat terdapat 4 (empat) laporan kekayaannya di website KPK. Tahun 2001 (Rp 7,108 milyar), tahun 2004 (Rp 9,635 milyar), tahun 2009 (Rp 14,8 milyar), dan tahun 2012 total kekayaan Hatta Rajasa menjadi Rp 16,955 milyar plus USD 56,936. Menurut KPK, total kekayaan Hatta Rajasa pada tahun 2014 adalah sebesar Rp 30,234 milyar.

kekayaan hatta rajasa 2012

LHKPN Hatta Rajasa tahun 2012

Peluang Usaha Menjelang Pemilu

Banyak sekali peluang usaha menjelang pemilu, kalau mau dipikirkan baik-baik. Entah itu pemilu legislatif atau pemilihan presiden yang akan berlangsung sesaat lagi. Bayangkan, uang yang dianggarkan untuk Pemilihan umum tahun 2014 mencapai Rp 17 triliun. Dana ini belum termasuk dana yang dikeluarkan oleh masing-masing partai. Kalikan saja sekian milyar dengan 12 partai.

pemilihan umum

Pengeluaran dari Komisi Pemilihan Umum misalnya untuk pengadaan TPS termasuk perangkat dan petugasnya. KPU menghabiskan Rp 16 milyar lebih untuk membeli tinta pemilu dari tiga perusahaan : CV Tridaya Pratama, PT Intimas Wisesa, dan PT Tintamas Tirta Surya. Itu baru soal tinta pemilu, belum lagi surat suara, kotak tempat mengumpulkan kertas suara, dan lain-lain. Biarkan saja orang lain ribut soal capres atau anggota legislatif, yang penting lapak kita tetep rame.

Jasa konsultan dan pemenangan

Banyak cara dilakukan orang untuk memenangkan sang client. Salah satunya adalah dengan berkampanye ke sebanyak mungkin masyarakat. Biasanya, komisi baru diberikan caleg ketika hasil penghitungan suara sudah selesai, alias bayar belakangan. Ini termasuk menyewa buzzer buat kampanye di Twitter, Facebook, dan berbagai media sosial lain.

Dukun alias orang pintar

Menjelang pemilu, banyak sekali dukun dadakan yang mengaku dapat menolong caleg meraih kursi idaman di Senayan. Entah bagaimana prosesnya, yang membuat penulis heran, kalau memang sang dukun sungguh-sungguh manjur, kenapa tidak dia saja yang maju menjadi caleg? Mungkin kebanyakan dukun nggak ganteng, atau tak tahu cara memakai dasi.

Spanduk, kaos, poster, dan baliho

Yang berkaitan dengan percetakan memang ketiban rejeki dalam event 5 tahun sekali ini. Kebanyakan spanduk dan poster memang berkualitas rendah, atawa murah meriah. Ini memang disengaja supaya spanduk cepat rusak karena toh musim kampanye tak terlalu lama.

Edit video/foto, iklan, designer

Muka caleg yang bikin muak bisa disulap menjadi sumringah dan cerah bersahaja. Kalau senyum kurang mengembang atau wajah kurang cerah seperti bintang iklan Biore Mens, tenang saja ada Adobe Photoshop. Untuk urusan video di YouTube, bisa tiru-tiru lagu barat terus digubah dikit-dikit.

Kalender

Kalau lapak lain bikin produk yang mungkin akan usang dalam waktu singkat, lain halnya dengan kalender. Pedagang kalender edisi foto caleg minimal akan membuat produk yang dipakai beberapa bulan. Kalau bosan melihat wajah caleg (yang mungkin sudah gagal), bagian foto silakan dipotong saja.

Oya, ada satu lagi peluang usaha yang tak kalah menguntungkan yang muncul setelah pemilu selesai : pedagang obat anti depresi, rumah sakit jiwa, dan pesantren penampung caleg stress.

Menghadapi Persaingan Usaha

Tak jauh dari ruko Anda, ada ruko lain yang memiliki bisnis serupa. “Kompetitor!” pikir Anda. Takut menghadapi persaingan usaha, Anda pun jadi panik. Tidur tak tenang, makan tak sedap, tahu-tahu sudah kenyang, tanpa rasa. Banyak pertanyaan menerawang di pikiran. Apakah pesaing Anda punya produk yang lebih baik? Apakah pelanggan Anda akan beralih ke lapak sebelah? Apakah mereka punya harga yang lebih murah? Bagaimana jika omset saya menurun? Dan sejuta pertanyaan lain merasuki pikiran dan membuat kita tidak fokus berbisnis.

menghadapi persaingan usaha

Your competitor validates your business

Kalau sekampung nggak ada yang buka warnet satupun, mungkin sebagian besar orang berpikir itu adalah peluang usaha. Tapi, bisa jadi justru ketiadaan warnet itu karena memang di situ tidak ada demand sama sekali. Jadi, kalau setiap 100 meter ada warnet, justru itu bukti bahwa memang bisnisnya sedang bagus. Ada demand, ada supply. Ada persaingan usaha, justru menjadi petunjuk bahwa sebetulnya ada pasar di situ.

We can not eat a whole pie

Menjadi pemonopoli harus jadi ide yang kita buang jauh-jauh sedari awal membuka usaha. Jangan buka bisnis yang sekadar supaya tetangga Anda nggak bisa makan. Kita tidak bisa memakan semuanya, sebagaimana orang lain juga tidak bisa memakan semua kuenya. Yang perlu dipastikan hanya apakah setiap orang mendapatkan bagian yang cukup.

Focus on what you are good at

Market bisa jenuh. Market bisa saja sepi mendadak. Pasar menjadi rusak. Ini bisa disebabkan karena kebodohan para pelaku usaha dengan bidang bisnis yang mirip. Ini bukan tentang lari dikejar beruang, di mana kalau pesaing Anda mati karena terlalu lambat, Anda bisa dengan santai berlari sendirian. Tapi ini tentang makan di restoran buffet, di mana setiap orang membayar dengan harga yang sama, dan jatah masing-masing orang selalu tersedia. Fokus pada kualitas produk yang lebih baik, atau pelayanan yang lebih ramah. Jika barang lapak sebelah lebih bagus, senyum Anda pada pembeli harus lebih lebar.

Stress kills

Memikirkan pesaing siang dan malam sangat menguras waktu, dan kesehatan Anda. Belum tentu juga mereka mikirin kita. “Hey, kalian tahu di ujung jalan sana ada mini market baru berdiri?” tanya seorang bos pada bawahannya. “Tapi Pak..” pegawai mencoba menengahi. “Saya tidak mau tahu! Pokoknya cari tahu berapa omsetnya per hari, berapa orang yang jadi pelanggan mereka, kalau perlu sewa detekfif swasta buat penyelidikan kita. Kenapa sih, usaha mereka lebih rame dari usaha kita?” si Bos makin meradang. “Tapi Pak, toko kita ini kan toko bangunan?” jawab pegawai memelas.

Ada kalanya kekhawatiran kita berlebihan. Sebetulnya kita tidak boleh takut menghadapi persaingan usaha.

Pikir 1000 kali jika ingin perang harga

Ada sebuah cerita tentang pedagang  jeruk yang berdagang bersebelahan. Sebut saja Hasan dan Husein. Suatu ketika seorang Ibu calon pembeli jeruk memilih-milih jeruk milik Hasan. “Sekilo berapaan, Bang?” tanya Ibu. “Sekilo 1000 rupiah Bu, manis-manis loh Bu..” jawab Hasan meyakinkan. Melihat hal itu Husein jadi kesal. “Bu kalau Ibu beli sama saya, nanti saya kasih gratis 1 buah jeruk ekstra,” tantang Husein. Hasan pun berang. “Oh saya turunin harga deh Bu, jadi 900 sekilo, dapet tambahan ekstra 1 jeruk,” Hasan tak mau kalah.

Akhirnya, mereka pun separuh beradu mulut sehingga harga per kilo di Hasan jadi 200 rupiah dengan bonus 3 jeruk, dan harga Husein 300 rupiah dengan bonus 4 jeruk. “Sudah sudah.. Kalau begitu saya beli dari abang ini sekilo, dan dari abang yang ini satu kilo juga,” sang Ibu menghentikan perdebatan di pasar itu. Setelah si Ibu pergi, Hasan dan Husein pun masih ngotot menentukan siapa yang lebih untung dan siapa yang bodoh tak pandai menjual.

Hampir berkelahi, datang seorang Bapak yang melerai mereka berdua. Setelah mendengar cerita utuhnya, “Hmm.. Sebetulnya modal kalian per kilogram jeruk berapa?” tanya si Bapak. “Delapan ratus!” jawab Hasan dan Husein hampir serentak. “Jadi, kalau masing-masing kalian menjual 200 rupiah per kilo dengan bonus 3 jeruk dan satu lagi menjual 300 rupiah dengan bonus 4 jeruk, siapa yang sebetulnya bodoh dan tak pandai menjual?

Bargaining Power Penjual

Kita sudah belajar sedikit trik untuk menawar harga di tulisan sebelumnya. Dari sisi penjual, sebetulnya kita juga memiliki bargaining power yang mesti dimanfaatkan. Perlu diingat, our product is as fabulous as we are. Barang yang kita jual itu sudah tepat harganya, porsinya, iklannya, dan pengemasannya. Pada tulisan kali ini kita belajar bentuk-bentuk intimidasi calon pembeli yang umum terjadi. Hati-hati, jangan sampai kemakan.

Saya ambil kasus ketika saya menjual gitar Yamaha GL-1 di tokobagus dot com pada Jumat jam 11 malam, dan deal di hari Minggu pagi. Bunyi iklannya tak terlalu muluk, “Dijual Yamaha GL-1 Guitalele” sebagai tajuk, dan saya kasih harga Rp 299.000, alias tak sampai sapekceng. Foto cukup 2 saja, ambil gambar terbaik, jangan ngeblur-ngeblur amat, atau punya resolusi rendah. Lengkap dengan nomor handphone saya. Iklan yang tak banyak cingcong. Sempurna.

Yamaha GL-1 Guitalele

“Gan, gitarnya masih ada?” SMS pertama masuk jam 10 pagi hari berikutnya. Standar. Inti dari percakapannya baru ketahuan setelah beberapa kali bertukar pesan. “Boleh ya 250ribu, Selasa saya ambil di Slipi. Thanks”.

Nawar harga seolah pasti dikasih

Mungkin dia pikir kita lagi butuh duit banget (emang iya sih, haha), sehingga berpikir bahwa saya akan langsung mengiyakan. Ingat, our price is right. Saya pernah lihat guitalele baru di Gramedia harganya Rp 450ribu. Saya beli di tahun 2008 di sebuah toko musik di Yogyakarta, harganya Rp 400ribu. Nggak dosa-dosa amat rasanya kalau harganya jadi 75% dari harga beli. Sudah dikasih label fixed price pula di iklannya. Pasti laku di harga segitu.

Menganggap barang punya kualitas rendah

Ada lagi SMS masuk, “Jangan-jangan barang KW ya? Ini ori Yamaha atau bukan?” Sudah disebut di iklan dengan lengkap, Yamaha GL-1. Kalau KW pasti nggak ditulis Yamaha, tapi Yahama atau Yamala. Plus senar baru saja saya ganti baru. Ingat aturan jualan kita : our product is the best of its kind that available on the market right now. Ini harus yakin betul, karena kalau nggak yakin sama produk sendiri, bagaimana kita akan meyakinkan orang lain?

Mengiba

“Gimana, 200 ribu aja ya? Ini anak saya mau masuk SD butuh duit” Kalau kata orang Sunda sih, sebodo teuing alias peduli amat. Jadilah pedagang yang profesional! Jauhkan diri dari rasa belas kasihan. Kalau mau nyumbang, bukan di tokobagus tempatnya. Saya balas SMS pembeli tersebut dengan “Maaf Pak, nggak bisa bantu. Ini Pak, kalau mau curhat mention saja Pak SBY di Twitter : @SBYudhoyono”

Membandingkan dengan pedagang lain

“Mas, saya pernah lihat di anu (menyebutkan tempat lain), harganya nggak semahal ini”. Ini trik basi. Dia menghubungi kita pasti karena terpesona dengan kualitas dari barang kita. Jadi kalau memang benar di tempat lain harganya jauh lebih murah, tentu pembeli sudah ambil dari tempat lain.

Merusak lapak orang lain

Ini yang paling parah. Biasanya di website khusus untuk jual beli, fitur komentar nggak bisa terlalu bebas. Tapi, semacam KasKus di mana orang bebas berkomentar (KasKus menurut saya bukan tempat ideal untuk jual beli, hanya saja traffic nya tinggi alias banyak pengunjungnya saja), biasanya kita kecolongan komentar-komentar bernada sinis seperti “Wah, mending upgrade ke model yang versi baru, harganya sama!” atau “Kemahalan nih harga segini, kunjungi lapak saya di http …..” atau “Hati-hati dengan pedagang ini, saya pernah beli sama dia eh nyampenya baru sebulan” atau hal-hal lain. Ini sudah jelas mengikis kredibilitas.

Kesimpulan

Percayalah, bahwa produk akan terjual dengan harga yang kita inginkan. Jangan buru-buru kasih kalau ada yang nawar. Jangan terintimidasi. Kalau nggak cocok sama calon pembeli pertama, anggap saja belum jodoh. Masih banyak yang antri buat mau bayar sesuai yang kita minta. Seperti kata Afgan, buat pembeli yang SADIS, KATAKAN TIDAK. SABAR, karena kita jualan TANPA BATAS WAKTU. Apalagi kalau barang HANYA ADA SATU. Ujung-ujungnya JODOH PASTI BERTEMU. #hoekgrokcuih