Menghargai Uang, Seberapapun Kecilnya

Bismillah

Ketika Everton bertanding melawan Liverpool di Liga Inggris, ada sebuah kejadian menarik yang melibatkan penyerang Liverpool, Luis Suarez. Om Suarez ini memang penuh dengan kontroversi, baik di Liga Inggris bersama Liverpool (misalnya saat ia diputuskan bersalah karena kasus rasisme terhadap Patrice Evra, pemain Manchester United), atau saat bersama tim negara asalnya, Uruguay (saat ia dengan sengaja melakukan hands ball di kotak pinalti untuk mencegah Uruguay kemasukan gol saat berhadapan dengan Ghana dalam Piala Dunia).

Luis Suarez memungut koin yang dilempar fans Everton (gambar dari Getty Images)

Saat salah seorang fans Everton berusaha mencederai pemain Liverpool dengan cara melempar koin, Suarez memungut koin tersebut, menunjukkannya sebentar pada wasit, dan menyimpannya di dalam sepatunya. Banyak sekali cerita mengenai kejadian itu, namun yang saya suka hadir seperti yang muncul di account Twitter Footy_jokes (dan beberapa blog yang membahas Liga Inggris lainnya).

When Everton fans threw coin at Suarez, he took them and kept that safe in his shoe, because he was once an 11-year-old kid on the streets of Montevideo playing football barefoot not knowing if there’d be food when he returned home. He know the value of money even if it’s just a penny. You’d know better than to throw coins at him

Terlepas dari “hoax” tidaknya cerita tersebut, saya yakin kita sama-sama bisa mengambil hikmah. Hikmah bahwa seharusnya kita bisa belajar untuk lebih menghargai uang, seberapapun kecilnya. Dan karena rata-rata negara di Amerika Latin memang tidak terlalu kaya, boleh jadi Suarez pun sempat mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Masa-masa bingung antara bisa makan atau tidak besok hari, di saat kebanyakan orang di luar sana menyombongkan apa yang mereka makan via Instagram.

Pengusaha-pengusaha yang baik, yang kekayaannya bukan datang begitu saja dari langit, atau warisan orang tuanya, tahu benar cara menghargai uang. Salah seorang pengusaha (yang kabarnya bakal maju menjadi Presiden di 2014. Oya, tentu blog ini tidak berafiliasi dengan Partai Politik atau brand mana pun :D ), bahkan berkisah saat ia berusaha meminjam uang Rp 16juta dari Ayahnya, ia diberi uang dalam bentuk uang kertas (tunai) di dalam karung, hingga sulit dibawa-bawa. Saat ditanya, “Mengapa caranya mesti seperti ini?” Ayahnya menjawab, “Itu agar kamu tahu sebanyak apa uang Rp 16juta itu, agar kamu berhati-hati menggunakannya.”

Jadilah seperti Paman Gober, yang kalau lihat uang walau recehan, pasti dipungut. Buktinya gudang uangnya semakin lama semakin penuh dengan uang, bahkan ia mandi pagi dengan berenang di tumpukan uang. Hehehehe. Jika kita ingin belajar menjadi pengusaha besar, ada baiknya kita juga belajar menghargai uang dengan cara memanfaatkan dengan benar setiap rupiah yang kita dapatkan dari berbisnis. Ada kalanya memang usaha sedang ramai, tapi boleh jadi lebih sering masa-masa paceklik mendera, yang mengakibatkan kita dililit hutang yang sangat besar, yang membuat kita bahkan lebih miskin dari pengemis, karena saldo pengemis nol, sedang saldo kita minus. Di saat kita lagi gembel-gembelnya, uang senilai 500 perak pun sungguh-sungguh berharga.

Belajar Manajemen Bisnis Dari Game Simulasi

Bismillah

Bisa kita bayangkan, bila seseorang memiliki ratusan anak perusahaan yang semuanya harus diatur setiap hari, alangkah sibuknya orang tersebut! Di sinilah skill manajerial seseorang dapat teruji, apakah ia mampu untuk mendelegasikan tugas-tugas yang jumlahnya seabreg pada beberapa bawahan terpercaya? Jika beruntung, maka tiap proses bisnis perusahaan akan berjalan dengan benar. Tapi bila tidak, boleh jadi kerugian akan didera, atau malah kebangkrutan. Amit-amit jabang kenyot.

Kalau Anda pernah bermain games Farm Frenzy, skill manajerial Anda akan terasah sedikit. Permainan sejenis ini, menuntut kita menentukan prioritas task, demi meraih tujuan di level/stage tertentu. Ceritanya, Anda adalah seorang peternak hewan, di mana hasil ternak dapat diolah secara bertingkat, demi menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda. Di setiap level, kita diberi modal berupa uang yang dapat dibelanjakan. Kita bisa memelihara ayam (termurah), domba, atau sapi (paling mahal). Ada pula “buildings” yang fungsinya mengolah hasil ternak yang masih mentah (berupa telur, bulu domba, atau susu sapi) menjadi produk yang nilainya lebih tinggi.

Untuk dapat menampung hasil ternak, kita diberi “warehouse” atau gudang sementara yang kapasitas awalnya terbatas. Ada pula kendaraan untuk mengangkut hasil olahan peternakan ke kota, yang kapasitasnya juga terbatas. Eits, kesulitannya tidak hanya itu. Masih ada beruang yang sewaktu-waktu dapat memangsa hewan ternak kita. Untuk menangkap beruang, kita harus sigap melakukan tap/klik pada beruang hingga tercipta kandang untuk beruang. Opsional, kita diberi kesempatan membeli anjing penjaga untuk membantu menangkap beruang.

Farm Frenzy

Farm Frenzy

Untuk membuat keadaan makin sulit, di setiap stage/level diberi batasan waktu jika kita ingin mendapatkan bintang. Semakin cepat memenuhi target (yang jenisnya beragam di tiap level), maka semakin mudah memperoleh bintang dan uang untuk menaikkan level gudang, atau kendaraan pengangkut hasil olahan ternak.

Pertanyaannya, seberapa tangguhkah kita dalam mengelola bisnis peternakan ini? Apakah kita juga bisa siap bila dihadapkan pada kondisi serupa di kehidupan nyata? Apakah kita siap bangkit lagi bila semua hewan ternak habis dimangsa beruang? Seberapa cepatkah perputaran uang dalam kas peternakan kita? Keputusan mana yang kita ambil, mengupgrade kendaraan pengangkut hasil olahan ternak ke kota supaya lebih cepat dan lebih muat banyak, atau membeli lebih banyak domba? Akankah kita bisa menyelesaikan setiap level dengan waktu terbaik? Akankah kita bisa menjadi manager kelas dunia dari game simulasi?

Masalah-masalah pada “simulation games” sebenarnya ingin dimiripkan dengan pengalaman bisnis/planning/manajemen di “real life”. Farm Frenzy hanya contoh sederhana di antara sekian banyak permainan simulasi yang semakin lama semakin rumit (yang sedang coba penulis mainkan saat ini adalah SimCity 5, yang hingga saat ini belum berhasil dibeli karena lagi nabung). Dengan sumber daya yang terbatas, kita dituntut untuk menghasilkan profit yang paling besar, kualitas prima, dan tentu harus sesuai dengan tenggat waktu yang ditentukan. Semuanya memerlukan pikiran yang matang dalam mengambil keputusan, dan tak kalah penting intuisi bisnis yang tajam untuk melakukan prediksi.

Apa akibat dari manajemen bisnis yang kacau? Kesalahan dalam memperkirakan delivery time ke konsumen, akan berakibat kita kena maki-maki. Paling apes ya masuk penjara karena dianggap mengingkari kontrak atau perjanjian kerja. Manajemen bisnis yang kacau juga bisa dilihat dari pembagian tugas di SDM yang tidak terstruktur, atau tidak mem-breakdown task-task besar menjadi task-task yang lebih kecil yang lebih “doable”. Contoh task besar adalah “pengerjaan baliho ukuran 3 kali 4 meter untuk Calon Bupati Haji Anu”, seharusnya dipecah menjadi misalnya “mengurus perijinan ke kantor walikota”, “pembelian bahan vinyl dengan spesifikasi X ke Bang Solih”, atau “assign designer untuk membuat gambar kasar”.

Dari task-task yang kecil tersebut, kita bisa menjadi lebih yakin dalam memperkirakan kapan sebuah task / proyek bisa diselesaikan. Tentunya dengan ditambah sekian persen dari waktu total, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Ingat, bahwa resource kita sungguh terbatas, dan waktu kita juga mepet. Tidak mungkin semua pegawai disuruh lembur bila deadline sudah dekat, karena kelelahan luar biasa akan berdampak pada produktivitas pada project-project selanjutnya.

Keahlian dalam mengatur proses bisnis yang besar, sesungguhnya bisa dipelajari dari bermain games-games simulasi seperti di atas, atau beli sebuah game yang rumit sekalian. Semoga berhasil.

Uttare Daikichi (Daikichi’s Salesmanship), Komik Inspirasi Bisnis

Bismillah

Terus terang, penulis tidak terlalu suka (bukannya tidak suka sama sekali) dengan buku-buku kisah sukses yang sering kita temui sebagai “best seller” dan dipajang di rak-rak buku toko-toko buku ternama seperti Gramedia. Biasanya, buku tersebut hanya bercerita tentang narsisme si penulis (karena covernya hanya foto penulis pakai jas dan terlihat keren), dan kurang praktikal (alias kurang bisa diterapkan).

Uttare Daikichi

Uttare Daikichi

Maka dari itu, saat pertama kali tahu ada komik dengan judul Uttare Daikichi (diterjemahkan sebagai Daikichi’s Salesmanship) dengan tema bisnis oleh anak-anak, ini saya rasa cukup menarik, karena jarang sekali tema-tema seperti ini muncul di dalam komik. Komik lain yang agak menjurus ke bisnis yang pernah saya tahu adalah Money Maker yang isinya tentang investasi di saham oleh (lagi-lagi) seorang anak kecil. Ada lagi komik lain berjudul Kurosagi (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Black Swindler) yang bercerita tentang bentuk-bentuk penipuan dalam bisnis.

Dikisahkan dalam Uttare Daikichi, seorang anak bernama Daikichi Sagano yang punya mimpi tak tanggung-tanggung: menjadi pedagang nomer 1 di dunia! Ayah Daikichi memang seorang penjual takoyaki dan sedang berjualan keliling dunia. Secara kebetulan, Daikichi bertemu dengan kucing keramat yang dapat berbicara. Kucing yang dinamai Neko-sensei (neko = kucing, sensei = guru) ini ternyata adalah kucing berusia ratusan tahun yang punya kemampuan pinandhita dalam berbisnis, diduga karena merupakan titisan Dewa Dagang.

Dimulailah petualangan Daikichi bersama Neko-sensei, misalnya dalam menyelamatkan warung mainan tradisional nenek yang akan bangkrut, menjadi juara dalam porseni sekolah yang unggul dalam jumlah pengunjung dan kepuasan pembeli, hingga pada akhirnya bertemu dengan kompetisi dari taipun bisnis bernama Shochiku dengan hadiah 30 milyar yen. Di sela-sela petualangannya, guru kucing selalu memberi tips-tips bisnis yang berguna untuk Daikichi yang masih hijau dalam urusan berdagang. Guru kucing pun berharap bahwa kemampuan Daikichi akan semakin terasah, dan pada waktunya nanti akan mendatangkan keuntungan pula baginya.

Salah satu tips display content (penempatan items yang dijual di toko) yang diberikan guru kucing adalah soal memberikan “rasa aman” pada calon pembeli untuk sebuah merek spray rambut yang baru. Pada dasarnya sebuah produk baru boleh jadi memiliki keunggulan seperti harga yang lebih murah, tampilan lebih menarik, dll. Tapi, konsumen yang sudah terlanjur loyal dengan produk-produk yang terkenal duluan, akan susah dibujuk untuk sekadar mencoba. Hal ini disadari Daikichi tatkala melihat dua buah box plester luka yang berbeda merek. Merek A box-nya masih berisi full (misalnya 24 package yang lebih kecil), sedang box merek B hanya berisi sedikit package.

Kelihatannya, plaster merek A sulit sekali laku, dan produk B yang cepat laku. Pada kenyataannya, justru sebaliknya! Plester merek A sudah terjual pada box ketiga bulan ini, sedang produk B belum sampai 1 box terjual. Ini membuat Daikichi mengambil beberapa spray pada box display spray rambut merek baru, dan pembeli pun akan merasa “Oh, merek ini sudah banyak yang beli” atau “Wah, udah mau habis aja, kalau nggak ambil nanti kehabisan”. Tips-tips sederhana seperti ini banyak sekali dijumpai di sepanjang perjalanan bisnis Daikichi.

Salah satu cerita lain adalah penjelasan guru kucing untuk pembagian model pembeli sesuai perilakunya yang mirip ikan koi dan ikan ayu. Karena perilakunya berbeda, maka “cara memancing”-nya juga berbeda. Pembeli model ikan koi, adalah pembeli yang mesti dibaik-baikin dulu, disapa ramah, dilayani sedemikian rupa, sampai nanti akhirnya membeli. Tapi, kebanyakan pembeli adalah pembeli model ikan ayu. Justru kalau semakin disapa, ditegur, ditanyain lagi cari apa, justru semakin risih dan akhirnya kabur.

Ada lagi cerita lain soal porseni sekolah. SMP Daikichi setiap tahun mengadakan porseni di mana masing-masing tim yang terdiri dari 4 murid membuat stand. Stand bisa saja restoran, warung kecil, pameran foto, kolam pancing, rumah hantu, apa saja. Penghargaan Most Valuable Stand akan diberikan pada stand yang berkriteria: profit paling besar, dikunjungi paling banyak, dan mendapat vote dari kebanyakan pengunjung porseni. Melihat histori Daikichi yang selalu saja gagal di 2 kali porseni sebelumnya, tak heran tak ada satu murid pun yang ingin bergabung bersama Daikichi.

Tersebutlah Makoto, teman Daikichi sedari kecil, yang dahulu pernah berjanji untuk membuat perusahaan bersama. Makoto juga tak mau menjadi teman satu tim Daikichi. Faktanya, Makoto bekerja keras setiap pagi menjadi pengantar koran. Yang tak diketahui Daikichi, Makoto selalu berangkat subuh-subuh, dan terpaksa berdagang koran karena orang tuanya bercerai, sedangkan ia memerlukan biaya besar untuk sekolah dan adiknya yang masih kecil. Waktunya habis untuk bekerja. Makoto beranggapan bahwa dagang yang ada hanya susah, dan sekeras apapun berusaha, hidup tak akan jadi lebih baik. Sesulit apapun melayani pelanggan-pelanggan korannya, yang ia dapatkan hanya muka masam di pagi hari.

Daikichi diam-diam membuntuti Makoto keesokan paginya dan mengambil alih tugas Makoto mengantar koran. Sambil membagikan koran ke pelanggan-pelanggan Makoto, Daikichi selalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih, tak peduli mau diberi respon tak enak, atau dibalas dengan muka kecut. Ternyata, seorang Bapak tua yang menjadi pelanggan Makoto, untuk pertama kalinya selama Makoto berjualan, membalas pula dengan sebuah senyuman. Cara pandang Daikichi tentang berjualan, telah membuat Makoto berubah pikiran. Bahwa ternyata apa yang dikatakan Daikichi benar (yang saya ambil menjadi tagline blog ini), bahwa kita berdagang bukan demi profit semata, tapi berdang demi sebanyak mungkin senyum. Akhirnya Makoto bergabung bersama tim Daikichi, serta Azuki dan Sawai (teman baik Daikichi).

Secara umum memang ceritanya kurang masuk akal, plus agak terlalu singkat (Daikichi’s Salesmanship hanya berseri hingga 4 buku). Namun kalau untuk referensi alternatif dan seru-seruan, seri komik ini patut untuk dijadikan koleksi tambahan. Seperti apa kisah selengkapnya Daikichi bersama impiannya menjadi pedagang nomer 1 dunia? Akankah tim Daikichi bisa merebut trofi Most Valuable Stand yang selama 2 tahun berturut-turut dipegang Raionji, anak orang kaya dengan koneksi tak terbatas? Trik bisnis apa lagi yang diajarkan guru kucing? Bagaimana cara Daikichi bersaing melawan trik-trik kotor bisnis Tojo, dan menjadi pemenang di proyek Shochiku bernilai 30 milyar yen?

Anda bisa baca sendiri di komik Daikichi’s Salesmanship terbitan Elex Media Komputindo.

Mencari Aplikasi Virtual Trading Gratis

Bismillah

Aplikasi virtual trading gratis bisa kita gunakan sebagai media belajar (sementara) dalam mengenali dunia efek, saham, dan derivatif/turunannya. Yang perlu kita lakukan hanyalah melakukan registrasi, dilanjutkan dengan menginstall software atau program tertentu di komputer kita. Sebenarnya ada banyak sekali perusahaan sekuritas atau broker saham yang menyediakan software aplikasi untuk trading, namun sangat disayangkan bahwa kebanyakannya tidak menyediakan pembuatan account virtual dan mengharuskan kita untuk membuat account asli (dan mendaftar ke rekening efek betulan, artinya menggunakan dana betulan).

Untuk trader pemula seperti saya, kendalanya biasanya ada 2. Belum berani masuk ke pasar saham dengan dana sungguh-sungguh, dan kalau mau membuka rekening asli pun setoran awal minimalnya berkisar antara Rp 5-10 juta. Berikut adalah beberapa hasil penelusuran saya pada beberapa website perusahaan sekuritas. Perlu diingat boleh jadi informasi yang terdapat pada tulisan ini sudah tidak valid, bila ada koreksi silakan cantumkan pada kolom komentar di bagian akhir.

  1. Indonesia Stock Exchange (Bursa Efek Indonesia)
    IDX Virtual Trading adalah layanan dari BEI untuk para pemula yang baru belajar tentang pasar modal. Untuk mendapatkan akses Anda tinggal melakukan pendaftaran dan menginstall aplikasinya di PC Anda. Modal dana yang Anda bisa pergunakan adalah Rp 5 milyar. Namun untuk saat ini sepertinya belum berhasil dijalankan di sistem operasi selain Windows. Oya, setelah melakukan pendaftaran, maka “jatah” akses akan kadaluarsa setelah 30 hari. Untuk tetap melakukan virtual trading, Anda harus melakukan registrasi kembali.
  2. Kresna Securities.
    PT Kresna Graha Sekurindo Tbk adalah salah satu perusahaan broker yang besar. Saat ini mereka menyediakan aplikasi virtual trading dengan tajuk Kresna Direct (bisa diakses di kresnadirect dot com). Namun untuk menggunakan aplikasi ini kita diharuskan melakukan payment sejumlah Rp 200ribu. Untungnya aplikasi Kresna Direct cocok digunakan di segala macam sistem operasi baik Windows, Mac, atau Linux.
  3. Danareksa
    Saat ini sepertinya Danareksaonline dot com tidak menyediakan aplikasi virtual trading secara gratis, namun setoran awal untuk membuka RDN (Rekening Dana Nasabah, rekening yang digunakan untuk bertransaksi saham) cukup murah, yakni Rp 100 ribu sahaja. Detailnya saya tidak baca lebih lanjut.
  4. Mandiri Sekuritas (mots dot co dot id)
    Mandiri Sekuritas saat ini tidak memiliki layanan virtual trading gratis, dan setoran awal minimalnya tergolong tinggi yakni Rp 5 juta untuk umum dan Rp 2 juta untuk mahasiswa. Dari websitenya kita bisa lihat bahwa MOTS juga dapat diakses melalui web langsung.
  5. Kim Eng Securities
    Kimeng dot co dot id tidak memiliki layanan virtual trading yang free. Namun dari segi jumlah nasabah dan volume transaksi, perusahaan sekuritas ini cukup oke. Registrasi dapat dilakukan secara online, namun saya kesulitan mengetahui berapa setoran awal minimal untuk menjadi nasabah di Kim Eng.
  6. E-Trading Securities.
    Ini merupakan perusahaan sekuritas yang sangat populer, mungkin karena sudah berdiri sejak lama dan pakai sistem online trading sudah dari dulu. Namun sayang sekali belum tersedia aplikasi virtual trading untuk kita buat account gratis.
  7. Bahana Securities
    PT Bahana Securities merupakan anak perusahaan BUMN PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI). Perusahaan ini merupakan perusahaan sekuritas tempat saya membuka account pertama kali, karena untuk peserta Sekolah Pasar Modal 2013 yang lalu mendapat kesempatan membuka rekening dengan setoran RDN minimal hanya Rp 200ribu sahaja, sekaligus menjadi syarat untuk ikut dalam SPM level 2 awal Mei mendatang (pengalaman di Sekolah Pasar Modal dari Bursa Efek Indonesia insya Allah akan saya tulis dalam artikel tersendiri, setelah saya ikut dalam SPM level 2 nanti). Di sini (Direct Trading), belum ada fasilitas untuk melakukan virtual trading.
  8. Sinarmas Sekuritas
    Merupakan perusahaan broker lokal yang lumayan disegani karena kebesaran grup Sinarmas. Aplikasi tradingnya tersedia cukup lengkap untuk berbagai macam sistem operasi dan smartphone, namun saya tidak menemukan layanan virtual trading di dalamnya, sehingga kita harus membuka account dengan dana betulan.
  9. Batavia Prosperindo (bpam dot co dot id)
    Tidak menyediakan layanan virtual trading gratis.
  10. Lautandhana online trading system (LOTS)
    Sayang sekali walau free registration tapi di ujungnya kita diharuskan setor minimal Rp 5juta untuk membuka account.

Ada banyak sekali perusahaan sekuritas lain yang cukup bonafid (bila dilihat dari jumlah transaksi per hari), namun sepertinya akan banyak menghabiskan waktu bila dibahas semuanya. Yang paling saya rekomendasikan tentu IDX Virtual Trading dari Bursa Efek Indonesia (walau hingga saat ini saya belum berhasil menginstall aplikasinya di OSX). Saran dan kritik pada tulisan ini dipersilakan, untuk memperbarui data atau sekadar tambahan informasi.

Memahami Arti “Investasi” Yang Sebenarnya

Bismillah

Pada dasarnya orang berinvestasi untuk salah satu di antara dua hal berikut : memperoleh keuntungan, atau sarana saving untuk mencegah turunnya nilai aset. Misalnya, Anda memiliki sejumlah uang, katakan Rp 1 milyar. Aset berupa uang ini nilai intrinsiknya akan terus menurun, disebabkan karena laju inflasi yang kisarannya bervariasi dari tahun ke tahun. Uang senilai Rp 1 milyar ini pun, Anda investasikan pada beberapa aset tetap dan bertumbuh.

Contoh aset tetap misalnya tanah, rumah, atau emas. Aset tetap adalah model aset yang nilainya tidak jauh berubah melainkan dengan persentase yang kecil. Investasi pada aset tetap ini, menurut pribadi penulis, adalah model investasi yang nggak investasi-investasi banget. Mengapa? Karena dengan Anda membeli tanah, rumah, atau emas, dan dibiarkan begitu saja (ongkang-ongkang kaki) dengan harapan bahwa nilainya akan sedikit mengalahkan inflasi, kurang begitu besar nilai tambahnya di masyarakat dibandingkan jika Anda berinvestasi pada aset bertumbuh.

Apa itu aset bertumbuh? Aset bertumbuh ialah model aset yang nilainya akan jauh melebihi nilai aslinya, dikarenakan memberikan dua macam keuntungan yakni kenaikan nilai intrinsik aset tersebut, atau keuntungan dari usahanya. Contoh nyata dalam investasi pada aset bertumbuh adalah Anda mempergunakan uang Rp 1 milyar tadi untuk beternak sapi. Jika uang Rp 1 milyar dibelikan sapi 100 ekor (asumsi 1 sapi harganya Rp 10 juta), maka dalam waktu 2-3 tahun kemungkinan harganya akan menjadi Rp 11 juta per ekor, belum lagi ditambah dengan sapi-sapi hasil anakan 100 ekor sapi tadi.

Model investasi pada aset bertumbuh inilah yang digemari penulis, selain karena tidak hanya memberikan keuntungan yang relatif lebih besar, tapi juga memberikan nilai tambah bagi sosial / masyarakat. Misalnya dalam bentuk lapangan pekerjaan, perputaran uang yang lebih besar, ekonomi, dll. Bandingkan jika Anda membeli emas lalu hanya disimpan dalam deposit box, atau beli tanah sekian ratus hektar tanpa diolah menjadi kebun atau hal ekonomis lainnya.

Masing-masing model investasi memiliki resiko. Sehingga, mudah saja bagi kita untuk menilai apakah sebuah model invetasi merupakan model investasi bodong (tipu-tipu) atau memang murni investasi. Ciri investasi palsu adalah model bisnisnya tidak jelas, dengan margin keuntungan atau profit yang tidak masuk akal. Saat ini suku bunga saja kisaran 6% per tahun. Artinya, bila ada yang menjanjikan memberikan profit katakanlah 2% per bulan (24% per tahun), maka sudah dapat dipastikan bahwa investasi tersebut memiliki resiko yang amat besar. Dan selalu begitu = profit besar maka resiko juga besar.

Anjloknya harga emas baru-baru ini juga merupakan pukulan telak bagi para pelaku “investasi” kebun emas. Kata investasi penulis beri tanda kutip karena bukannya berinvestasi dengan benar, namun dengan memanfaatkan sifat serakah manusia, orang-orang dianjurkan untuk meminjam dana (hutang) untuk berspekulasi dari harga kenaikan emas. Ingat bahwa sebuah komoditas yang harganya melonjak tajam, boleh jadi akan turun dalam presentase yang tak kalah besar pula. Berspekulasi dari fluktuasi harga komoditas adalah sesuatu yang beresiko tinggi, bila tak mau dianggap sebuah perjudian.

Semoga kita bisa bijak dalam memilah mana yang benar-benar investasi dan mana yang hanya aksi penipuan belaka. Greed is not good. Keserakahan itu tidak baik.