Menyikapi Aksi “Jual Mahal” Atawa Bargaining Power

Kita sudah belajar sedikit trik untuk menawar harga di tulisan sebelumnya. Dari sisi penjual, sebetulnya kita juga memiliki bargaining power yang mesti dimanfaatkan. Perlu diingat, our product is as fabulous as we are. Barang yang kita jual itu sudah tepat harganya, porsinya, iklannya, dan pengemasannya. Pada tulisan kali ini kita belajar bentuk-bentuk intimidasi calon pembeli yang umum terjadi. Hati-hati, jangan sampai kemakan.

Saya ambil kasus ketika saya menjual gitar Yamaha GL-1 di tokobagus dot com pada Jumat jam 11 malam, dan deal di hari Minggu pagi. Bunyi iklannya tak terlalu muluk, “Dijual Yamaha GL-1 Guitalele” sebagai tajuk, dan saya kasih harga Rp 299.000, alias tak sampai sapekceng. Foto cukup 2 saja, ambil gambar terbaik, jangan ngeblur-ngeblur amat, atau punya resolusi rendah. Lengkap dengan nomor handphone saya. Iklan yang tak banyak cingcong. Sempurna.

Yamaha GL-1 Guitalele

“Gan, gitarnya masih ada?” SMS pertama masuk jam 10 pagi hari berikutnya. Standar. Inti dari percakapannya baru ketahuan setelah beberapa kali bertukar pesan. “Boleh ya 250ribu, Selasa saya ambil di Slipi. Thanks”.

Nawar harga seolah pasti dikasih

Mungkin dia pikir kita lagi butuh duit banget (emang iya sih, haha), sehingga berpikir bahwa saya akan langsung mengiyakan. Ingat, our price is right. Saya pernah lihat guitalele baru di Gramedia harganya Rp 450ribu. Saya beli di tahun 2008 di sebuah toko musik di Yogyakarta, harganya Rp 400ribu. Nggak dosa-dosa amat rasanya kalau harganya jadi 75% dari harga beli. Sudah dikasih label fixed price pula di iklannya. Pasti laku di harga segitu.

Menganggap barang punya kualitas rendah

Ada lagi SMS masuk, “Jangan-jangan barang KW ya? Ini ori Yamaha atau bukan?” Sudah disebut di iklan dengan lengkap, Yamaha GL-1. Kalau KW pasti nggak ditulis Yamaha, tapi Yahama atau Yamala. Plus senar baru saja saya ganti baru. Ingat aturan jualan kita : our product is the best of its kind that available on the market right now. Ini harus yakin betul, karena kalau nggak yakin sama produk sendiri, bagaimana kita akan meyakinkan orang lain?

Mengiba

“Gimana, 200 ribu aja ya? Ini anak saya mau masuk SD butuh duit” Kalau kata orang Sunda sih, sebodo teuing alias peduli amat. Jadilah pedagang yang profesional! Jauhkan diri dari rasa belas kasihan. Kalau mau nyumbang, bukan di tokobagus tempatnya. Saya balas SMS pembeli tersebut dengan “Maaf Pak, nggak bisa bantu. Ini Pak, kalau mau curhat mention saja Pak SBY di Twitter : @SBYudhoyono”

Membandingkan dengan pedagang lain

“Mas, saya pernah lihat di anu (menyebutkan tempat lain), harganya nggak semahal ini”. Ini trik basi. Dia menghubungi kita pasti karena terpesona dengan kualitas dari barang kita. Jadi kalau memang benar di tempat lain harganya jauh lebih murah, tentu pembeli sudah ambil dari tempat lain.

Merusak lapak orang lain

Ini yang paling parah. Biasanya di website khusus untuk jual beli, fitur komentar nggak bisa terlalu bebas. Tapi, semacam KasKus di mana orang bebas berkomentar (KasKus menurut saya bukan tempat ideal untuk jual beli, hanya saja traffic nya tinggi alias banyak pengunjungnya saja), biasanya kita kecolongan komentar-komentar bernada sinis seperti “Wah, mending upgrade ke model yang versi baru, harganya sama!” atau “Kemahalan nih harga segini, kunjungi lapak saya di http …..” atau “Hati-hati dengan pedagang ini, saya pernah beli sama dia eh nyampenya baru sebulan” atau hal-hal lain. Ini sudah jelas mengikis kredibilitas.

Kesimpulan

Percayalah, bahwa produk akan terjual dengan harga yang kita inginkan. Jangan buru-buru kasih kalau ada yang nawar. Jangan terintimidasi. Kalau nggak cocok sama calon pembeli pertama, anggap saja belum jodoh. Masih banyak yang antri buat mau bayar sesuai yang kita minta. Seperti kata Afgan, buat pembeli yang SADIS, KATAKAN TIDAK. SABAR, karena kita jualan TANPA BATAS WAKTU. Apalagi kalau barang HANYA ADA SATU. Ujung-ujungnya JODOH PASTI BERTEMU. #hoekgrokcuih

Kekuatan Sholat Dhuha

Sebagian ulama menyifati perniagaan atau perkara jual beli sebagai kegiatan duniawi yang cukup menguras perhatian sehingga sering membuat kita lalai dalam beribadah pada Allah. Mengapa harus perdagangan? Bukankah masih banyak pekerjaan lain yang jauh lebih sibuk daripada pedagang, seperti dokter, pegawai pemerintahan, wartawan, dan lain-lain. Mengapa harus pedagang?

sholat_dhuha

Hal ini dikarenakan aktivitas jual beli adalah aktivitas yang paling besar potensinya dalam kaitannya dengan keuntungan duniawi. Semua melulu soal harta. Dan harta adalah fitnah. Benar adanya salah satu hadits Nabi yang artinya “Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid dan yang paling dibenciNya adalah pasar” (HR Muslim no 671). Kalau kita lihat jarang orang di pasar itu sholat.

Sebuah hadits dari Abu Dzar, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalaam bersabda yang artinya :

Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at” (HR Muslim No 720)

Ada ustad yang menjadikan sholat dhuha (selama 3, 7, 40 hari berturut-turut) sebagai solusi dari permasalahan dunia seperti hutang atau kesempitan rizki. Atau dibarengi dengan sedekah sampai-sampai harus sedekah motor. Karena sempitnya ilmu, penulis sampai saat ini belum mendapati hadits terkait hal tersebut, namun penulis rasa yang dimaksud adalah hadits berikut.

Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalaam bersabda yang artinya :

Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451)

Sholat Dhuha juga disebut sebagai sholat awwaabiin, yang maknanya sholatnya orang-orang yang taat kembali pada Allah. Penulis sendiri pernah memiliki pengalaman terkait sholat Dhuha. Ceritanya barang penulis tertahan di bea cukai. Lebih tepatnya, dari sebuah perusahaan ekspedisi (kita sebut saja inisialnya, TNT), meminta izin usaha karena barang tersebut dianggap sebagai alat kesehatan. Bila tidak ditebus, barang akan di-’destroy’ (ini istilah dari orang bea cukai dan orang ekspedisi).

Singkat cerita, penulis langsung bertandang ke kantor TNT di Soewarna Business Park di daerah Cengkareng, dekat dengan bandar udara Soekarno Hatta. Di sana, setiap kali kita terlihat bingung, ada saja yang menegur dengan bertanya “Mau ambil barang apa, Pak? Bisa dibantu?” Ini sudah bukti tegas bahwa everyone is a broker. Saya juga bertemu seorang Ibu yang barangnya ditahan dan berusaha menggunakan cara damai alias lewat belakang. Jadi dari awal penulis sudah mengira barang tidak akan bisa dirilis, dan dipersulit di sana-sini. Sudah frustrasi duluan.

Waktu berjalan, penulis masih rutin sholat Dhuha 2 rakaat. Pasang reminder di jam 9:30 pagi, supaya tidak lupa. Tak peduli dengan 3 hari, 7 hari, 40 hari, pokoknya sholat saja terus. Tidak terlalu peduli dengan barang yang bakal kena sita negara (padahal barang hasil sitaan akan dijual oleh oknum ke pasar di Indonesia). Selang seminggu lebih kemudian, inilah ajaibnya. Tiba-tiba saja ada telpon dari ekspedisi lain, kita sebut saja inisialnya DHL, yang katanya mau antar barang saya dari Spanyol, langsung ke alamat kantor! Alhamdulillah. Tanpa birokrasi macam-macam, akhirnya barang bisa saya terima dengan baik.

Belakangan penulis tahu, dari pihak pengirim di Zaragoza, barang dikirim kembali ke negara asal, lalu menggunakan ekspedisi lain (kita sebut saja inisialnya DHL) barang lalu dikirim ulang. Setelah sampai, barang tinggal dibayar saja pajaknya. Selesai. Inilah skenario Tuhan yang bekerja di balik layar, yang kita tidak tahu ujungnya, tapi berakhir bahagia.

5 Tips Percaya Pada Apa Yang Agan Jual

Terkadang kita melihat keberhasilan orang lain sebagai hambatan kita untuk maju. Tetangga kita selalu memiliki kebon yang lebih hijau, istri yang lebih bahenol, dan anak-anak yang lebih lucu. Tuhan Menciptakan kita dengan rasa iri, dan itu normal. Hal serupa berlaku untuk barang dagangan. Kadang kita iri karena barang dagangan orang lain lebih laku daripada barang dagangan kita sendiri. Dan ini pun, menurut penulis, normal-normal sahaja.

traditional-market

Traditional Market

Karena rasa iri dan bimbang itulah, biasanya kita jadi tidak percaya diri produk alias barang dagangan bakal laris manis di pasaran. Kita galau. Misal kita udah dikenal sebagai pedagang tahu. Lapak lagi sepi. Cuma karena satu calon pembeli yang nanyain kelapa parut, apakah kita mau pindah banting setir jadi pedagang kelapa parut?

0. Pasar boleh sepi, tapi lapak jangan sampe tutup

Adalah hal yang biasa bila sehari dua hari tidak ada penjualan. Tapi ini bukan berarti kita harus tutup toko. Pertama, karena kita nggak tahu rejeki datengnya kapan. Kedua, kalau ada yang beli dan ngelihat lapak tutup, bisa jadi calon pelanggan sudah terlanjur kecewa, dan nggak mau ambil barang di kita lagi.

1. Jadi pedagang kecap nomor 1 di dunia

Tidak ada kecap yang mengaku-aku jadi pemilik kualitas nomor 2. Semuanya nomor 1. Demikian pula, seharusnya kita menjadi pedagang yang yakin akan kualitas barang yang kita jual. Jangan sampai menyerah kalah dengan brand sebelah. Our product is the best of its kind that available on the market right now.

2. Gunakan produk sendiri

Mungkin kualitas baju yang kita jual memang aslinya tak seberapa bagus dibandingkan dengan produk lapak sebelah. Tapi setiap kali kita bertemu orang, apa iya kita menggunakan hasil karya orang? Apa kata calon pelanggan setia kita kalau kita ketahuan memakai produk merek lain? Di mana rasa bangga menggunakan karya sendiri?

3. Fokus pada satu macam produk

Jangan gamang bin rambang. Sekali lihat orang lain laku jualan nasi uduk, ikut-ikutan deh jualan nasi uduk. Eh, sekali dicoba kok sepi pembeli. Lihat lagi orang lain bikin warung nasi kuning, ganti pula jualan nasi kuning. Eh, sepi lagi soalnya jarang yang ulang tahun pesen nasi kuning. Lalu menyesal kenapa tidak tetap berjualan nasi uduk. Begitu seterusnya. Bila terlalu banyak pelaku pasar yang berjualan barang yang sama, bisa jadi pasar akan jenuh, dan harga bisa jatuh bebas.

4. Try to sell a condom to a monk

Oke, mungkin kita memilih barang yang salah untuk dijual. Mungkin market memang tidak siap (atau belum siap) untuk sebuah produk yang benar-benar baru, inovatif, belum ada yang jual sebelumnya. Mungkin konsumennya memang tidak tepat, entah punya daya beli yang rendah atau ternyata produknya kemahalan. Hey, tapi kita harus ingat bahwa kita adalah salesman terbaik dunia, yang bisa menjual apa saja pada siapa saja. Entah itu orang lagi butuh atau nggak. Contoh saja pengusaha rokok, mereka tak selalu suka merokok. Tapi revenue dari rokok selalu meroket. Mengapa? Ini karena perusahaan rokok memiliki salesman yang percaya mereka selalu bisa menjual, apapun barangnya. Jadilah seperti salesman.

 

Beli dan Jual Saham dengan DT NextG (Online Trading)

Pada kesempatan kali ini penulis akan menjelaskan teknis beli dan jual saham dengan menggunakan aplikasi DT NextG dari Bahana Securities. Broker ini adalah broker tempat penulis menjadi nasabah, karena Bahana juga merupakan salah satu sponsor di Sekolah Pasar Modal 2013 yang penulis ikuti. Sebagai awal, deposit pertama cukup 200 ribu rupiah saja khusus untuk peserta SPM 2013. Cukup murah untuk sekadar belajar berinvestasi di dunia pasar modal.

Dahulu, aplikasi untuk online trading dari Bahana dinamakan Direct Trading, namun versi terbarunya, DT NextG, memiliki fitur yang jauh lebih lengkap. Bertransaksi jual dan beli saham dengan aplikasi ini jauh lebih mudah daripada pesen baju bayi dari online shop yang pake Facebook. Serius.

Oya, untuk awal, mungkin ada yang bertanya, berapa idealnya jumlah uang yang mesti dipersiapkan untuk awal-awal terjun di bursa? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan sederhana : sejumlah uang yang Anda rela korbankan untuk HILANG. Kalau ikhlas 1 juta, ya 1 juta. Ikhlas hilang 10 juta, setor 10 juta. Itu jawaban yang saya dapat dari sekolah pasar modal.

Langkah-langkah untuk membeli / menjual saham di bursa efek (kita hanya membicarakan khusus Pasar Reguler) adalah sebagai berikut.

Terdaftar di salah satu broker

Broker bisa perusahaan mana saja. Pilihlah perusahaan yang bonafid, yang memiliki reputasi baik, misalnya dari segi jumlah nasabah, kesediaan fitur online trading, jumlah transaksi yang ditangani, sampai soal komisi transaksi yang kompetitif. Menjadi salah satu nasabah di broker tidak sulit, mirip ketika Anda membuka rekening di Bank. Isi formulir, dan tunggu sekitar 10 hari kerja. Kita akan memiliki Rekening Dana Nasabah yang sejatinya adalah rekening bank (untuk Bahana Securities, bekerja sama dengan BNI).

Rekening Dana Nasabah adalah tempat di mana kita melakukan setor/credit atau top up yang menjadi tempat khusus kita bertransaksi, baik jual maupun beli saham. Perlu diingat bahwa rekening ini sifatnya mirip rekening haji, sekali Anda setor, perlu prosedur khusus untuk menariknya kembali.

Download Aplikasi DT NextG untuk Online Trading

Kunjungi websitenya di http://directtrading.co.id/download, lalu unduh berkas instalasi sesuai dengan platform yang kita gunakan. Saat ini tersedia untuk Mac OSX, Windows, iOS, Android, dan BlackBerry. Sayang sekali penulis belum pernah mencobanya di Linux. Untuk Mac OSX, diperlukan Adobe Air versi terbaru. Klik dua kali pada berkas unduhan, lalu jalankan aplikasi seperti biasa.

Halaman Login DT NextG

Setelah aplikasi berjalan, kita akan dihadapkan pada halaman login. Gunakan username dan password yang didapat dari Bahana Securities (by system, dikirim via email). Ketika mengalami kesulitan, kita juga bisa telpon atau hubungi sales Bahana via email. Ada 2 kali “login” di dalam aplikasi DT NextG. Pertama, untuk masuk ke aplikasi dan sekadar melihat-lihat data dari bursa. Kedua, menggunakan PIN untuk melakukan transaksi jual, beli, amend order, dll (semua transaksi finansial).

jual beli saham dtnextg

Halaman Login DT NextG

Jual dan Beli Saham

Harga saham di bursa berkisar dari Rp 50 per saham hingga sekitar Rp 1,050,000 (MLBI). Harga saham tidak mungkin turun hingga di bawah harga Rp 50 per saham. Karena minimal pembelian di Pasar Reguler adalah 1 lot = 100 saham, maka kita hanya butuh goceng alias 5rebu perak untuk membeli saham. Jumlah yang lebih kecil daripada harga sebungkus nasi padang.

Setelah login di aplikasi DT NextG, pilih menu “Buy Order” atau ketik 4001 lalu enter di field pencarian. Tampilannya akan jadi seperti berikut ini.

jual-beli-saham-dtnextg-05

Halaman awal setelah login

jual-beli-saham-dtnextg-01

Pilih menu Buy Order atau Sell Order

Misalnya kita ketikkan TLKM untuk kode saham Telkom. Perhatikan bahwa kode saham biasanya merupakan 4 huruf yang mencerminkan nama sahamnya.

jual-beli-saham-dtnextg-02

Contoh Buy Order dengan saham Telkom

Mulai dari bagian kiri atas, adalah nomor nasabah, nama saya, dan field untuk PIN (bila hendak melakukan order). Code merupakan kode saham. Price untuk harga yang diminta. Jika checklist “Auto (Last)” dipilih, maka harga yang kita bid menyesuaikan offer price terbaik / termurah (lebih lanjut tentang Bid dan Offer, baca artikel sebelumnya tentang bagaimana sebuah harga saham terbentuk).

Selanjutnya untuk “Vol” adalah volume dalam satuan lot yang hendak dibeli. Jadi kalau beli 1 lot = 100 saham dikali harga diminta, itulah dana yang harus kita sediakan. “Mkt” adalah Market atau tipe pasar, dalam hal ini tidak bisa diubah alias hanya berkutat di Pasar Reguler. “Expire” berisi pilihan “Day” atau “Session”. Ada kalanya harga yang kita minta itu terlalu rendah sehingga nggak ada match atau tidak ada yang jual di harga segitu. Jika order kita lakukan di sesi 1, maka kalau “Day” yang dipilih, di sesi 2 nanti order akan terus dilanjutkan, tapi jika “Session” yang dipilih, order langsung dicancel otomatis. Untuk field “Value” adalah dana yang harus disediakan (jumlah lot x harga bid).

Untuk panel di bagian kanan, terdapat angka-angka yang biasanya berwarna hijau, merah, atau kuning. Hijau berarti ada peningkatan, merah turun, dan kuning tetap.
BidVol : Volume saham yang terjadi di harga tersebut dalam satuan lot
Bid : Harga bid atau harga yang diminta investor
Offer : Harga offer atau harga jual saham
OfferVol : volume offer di harga tersebut, dalam satuan lot pula

Tampak dari panel, posisi offer yang paling bagus atau termurah saat ini menjadi last price atau harga yang ditunjukkan oleh sistem untuk saham tersebut, dalam kasus TLKM adalah 2215. Jika kita melakukan order pada harga ini, maka sistem akan langsung melakukan match atau deal atau order terjadi. Sedangkan jika kita melakukan bid pada harga katakan 2210, maka kita mesti menunggu karena ada order sebelumnya yang sudah terjadi di bid tersebut, sebanyak 6079 lot.

Panel di bawahnya menunjukkan pergerakan harga saham tersebut. Dari gambar di atas
Last : posisi harga terakhir, yang meningkat 40 poin atau 1,83% dari harga penutupan hari sebelumnya.
Freq : Frekuensi transaksi yang terjadi
Volume : jumlah lot yang terjual
Value : nilai transaksi keseluruhan
Prev : Harga saham di hari sebelumnya, diberi label kuning karena di harga sebelumnya juga segitu.
Prev High : Harga transaksi yang tertinggi yang terjadi di hari sebelumnya.
Prev Low : Harga terendah saham di hari sebelumnya
High : Harga transaksi tertinggi sepanjang hari ini
Open : Harga pembukaan (saat market dibuka jam 9 pagi)
Low : Harga terendah yang terjadi sepanjang hari ini

Untuk panel paling bawah terdapat
Cash on T+3 : jumlah uang yang saya punya saat ini untuk bertransaksi. Ungkapan T+3 adalah transaksi sebenarnya baru akan terjadi 3 hari setelah order berhasil. Tampak bahwa di deposit saya hanya tinggal Rp 160,889 sehingga saya nggak bisa beli saham yang mahal.
Remain Trading Limit : Fasilitas trading limit adalah fasilitas “ngutang” yang disediakan oleh broker. Jadi walau saya nggak punya uang sekarang, broker bisa ngebayarin dulu transaksinya, dengan catatan saya harus bayar sebelum T+3. Darimana angka Rp 6,098,798 didapat? Tak lain tak bukan adalah nilai keseluruhan saham yang saya pegang saat ini jika dijual dengan harga pasar.

Mekanisme menjual saham atau Sell Order tidak jauh berbeda dari proses membeli saham atau Buy Order. Lihat saja panelnya di bawah ini.

jual-beli-saham-dtnextg-03

Panel Sell Order atau Jual Saham

 

Mendapatkan Kartu Kredit CIMB Niaga

Ketika itu penulis sedang nyuci sempak, dan tiba-tiba ditelpon dari nomor tak dikenal. Karena dari nomor hape, sebelum jawab mesti baca a’udzubillahiminassyaitonirrojim dulu, supaya tidak kena hipnotis dan berakhir saldo ATM terkuras. Ternyata dari sales kartu kredit CIMB Niaga. Intinya sang sales akan mengirimkan Gold Credit Card CIMB Niaga langsung ke alamat kantor.

Kartu Kredit CIMB Niaga Gold

“Nih Mas, kalau pake kartu kredit ini bisa buat beli sempak baru” mungkin begitu pikir si Mbak-mbak ini

Pertanyaan yang paling penting saat akan bikin kartu kredit baru menurut penulis sebenarnya cuma 2 : limitnya berapa, dan free annual fee atau tidak? Limit, kalau kecil, ya buat apa? Toh penulis sudah memiliki 2 kartu kredit yang limitnya lebih dari cukup. Kalau kenaikan limit tidak signifikan, agak susah juga pake kartu kredit untuk beli barang yang mahal (untuk dijual lagi tentunya, bukan konsumsi pribadi). Free annual fee kalau perlu seumur hidup. Toh kalau tidak dipakai tidak ada resiko apa-apa. ”Limitnya adalah total limit semua kartu kredit yang Pak Prabowo miliki, dengan free annual fee seumur hidup, Pak!” jawab suara di seberang sana.

Cucok.

“Pokoknya nanti kalau ditelpon dari pihak bank, bilang saja gaji Bapak sepuluh juta ya Pak?” lanjut Mbak-mbak sales. “Oke,” jawab saya, sambil memandangi sempak yang sedang menunggu dibilas. Sungguh, punya gaji 10 juta sebulan dan kegiatan mencuci sempak adalah dua hal yang sangat kontradiktif saat itu.

Tak lama, memang benar ada telpon dari orang Bank CIMB Niaga. Saya ditanya hal-hal biasa seputar pekerjaan, alamat, kontak orang tak serumah yang bisa dihubungi, dan lain-lain. Tapi, alih-alih bentuk pertanyaannya seperti “Bapak sekarang tinggal di mana?”, petugas bank hanya bertanya “Apakah benar Bapak tinggal di Jalan X nomor 99? Apakah benar kantornya masih di Gedung Anu Kav 123? Kontak orang tak serumah masih ke Bapak Fulan? Dengan nomor 0800xxxx?” Jadi hanya sekadar pertanyaan ya dan tidak. Dan tentu saja kita cukup bilang “YA!” saja dengan seyakin-yakinnya. Tidak rumit.

Beberapa hari kemudian di pabrik tempat saya bekerja sudah ada yang mengantar kartu kredit dari CIMB Niaga. Penerimanya pun bukan saya langsung, tak seperti ketika saya menerima kartu kredit BNI dan Mandiri. Tampak terlihat dari tanda terima paket, kurir yang mengantar adalah perusahaan lain / pihak ketiga bernama PT Prima Multi Cipta yang beralamat di Jl. Cikini 1 No 6, dengan nomor telepon 021-3140583. Sepertinya PT Prima Multi Cipta juga menjadi kurir pengantar kartu kredit untuk bank-bank lain seperti BNI, BII, Bukopin, dan BCA.

Ketika saya lihat, memang benar limitnya lumayan besar. Mungkin karena tipe Gold? Untuk aktivasi, tidak seperti kartu kredit BNI yang bisa diaktivasi via SMS, CIMB Niaga mensyaratkan telepon ke layanan phone banking di 14041. Nanti akan diverifikasi ulang untuk data-data pribadi, dan kartu kredit pun siap digunakan. Untuk pembayaran tagihan, tidak seperti kartu kredit Mandiri yang tidak bisa dibayar dari internet banking BCA, CIMB Niaga bisa dibayar dari klikbca.